




Beritaloka.com – Pada 8 September 2026 Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda yang sempat melumpuhkan sebagian penerbangan dan mengganggu aktivitas warga Jabodetabek mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan lima bandara udara telah kembali membuka operasional penerbangan setelah hasil uji lapangan memastikan area landasan dan ruang udara bersih dari abu vulkanik.
Rangkaian pemulihan terus dilakukan, bermula pada Jumat malam, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB. Letusan berlangsung nyaris tanpa henti selama kurang lebih 25 jam sebelum akhirnya reda pada Minggu dini hari.
BMKG terus menganalisis sampai akhir pekan terhadap sebaran besar abu vulkanik yg mengarah ke dua titik, satu bergerak ke arah timur laut hingga selatan, melintasi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat pada ketinggian sekitar 20 ribu kaki; satu lagi menyebar ke arah barat dengan jangkauan jauh lebih tinggi, mencapai 50 ribu kaki. Sebarannya bahkan tercatat sampai ke wilayah Bengkulu dan Sumatra Selatan.
Dampak paling berat dirasakan oleh warga Ibu Kota terjadi pada Minggu pagi, saat lapisan tipis abu vulkanik menutupi sejumlah ruas jalan, termasuk kawasan Bundaran HI yang biasa ramai oleh kegiatan Car Free Day.
Warga mengeluhkan sensasi perih di mata dan napas yang terasa lebih berat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan atau berkendara motor. Menanggapi kondisi udara yang memburuk, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat penghentian kegiatan CFD di kawasan Sudirman-Thamrin hari itu.
Tak hanya itu pemerintah juga memberlakukan kegiatan sekolah jarak jauh selama tiga hari. sebagai langkah kehati-hatian demi melindungi anak-anak dan kelompok rentan dari paparan abu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat delapan bandara di Jawa dan Sumatra sempat ditutup sementara akibat sebaran abu, dan sebarannya berdampak pada empat provinsi. Meski penerbangan terganggu luas, otoritas memastikan tidak ada korban jiwa, kerusakan berarti, maupun wilayah yang harus menetapkan status darurat. Kepala BNPB bahkan membandingkan intensitas erupsi kali ini dengan kejadian 2018, dan menilai tingkat letusan tahun ini relatif lebih rendah.
Pempercepatan pemulihan, BNPB dan BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca guna memicu hujan buatan yang diharapkan membantu meluruhkan partikel abu dari atmosfer, dengan titik operasi tersebar di Pondok Cabe, Kertajati, dan Semarang sebagai opsi cadangan bila cuaca di sekitar Selat Sunda belum mendukung.
Potensi Tsunami Terus Diawasi
Selain ancaman abu vulkanik, otoritas juga mewaspadai potensi tsunami akibat aktivitas gunung yang berstatus Siaga (Level III) ini. Sebanyak 20 alat pemantau telah dipasang di sekitar Selat Sunda, didukung sensor seismograf dan radar frekuensi tinggi, namun hingga kini belum terdeteksi anomali kenaikan muka air laut. Kapal-kapal juga dilarang mendekat dalam radius tiga kilometer dari kawah gunung selama status
Berlaku.
Verifikasi lapangan BMKG per selasa (8/9) memastikan landasan dan ruang udara sejumlah bandara sudah bersih dari material vulkanik, menandai babak pemulihan setelah beberapa hari penuh gangguan.
Meski demikian, aktivitas gempa Anak Krakatau dilaporkan masih tinggi, sehingga pantauan 24 jam terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi baru. (bam_bang)

