‘Suroboyo Wani’ : Ketika Sejarah Berjalan Kembali di Jalanan Kota Pahlawan

Wali Kota, Eri Cahyadi beserta istri (Rini Indriyani) turut tampil dalam Parade Surabaya Juang 2026 (foto/Beritaloka)

Beritaloka.com – Sore itu, Jalan Pahlawan hingga Balai Pemuda bukan sekadar ruas jalan biasa. Sepanjang 2,5 kilometer rute itu berubah menjadi panggung sejarah terbuka terbesar di Indonesia. Ratusan ribu warga dari berbagai usia berdiri berdesakan di tepi jalan, menatap ke depan dengan mata berbinar dan dada berdebar. Di tengah hiruk-pikuk yang tertata rapi, semangat kepahlawanan yang pernah membara tahun 1945 seakan hidup kembali.

Di sinilah Parade Surabaya Juang 2026 digelar. Mengusung tema “Suroboyo Wani”, gelaran ini bukan sekadar pawai biasa ia adalah napak tilas hidup yang mengajak warga merasakan langsung bagaimana arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian yang tak tergoyahkan.

Pukul 14.30 WIB, dari kawasan Tugu Pahlawan, suasana hening sejenak. Sosok berseragam lengkap komandan pertahanan Kota Surabaya melangkah ke tengah panggung teatrikal. Itu bukan aktor sembarangan itu Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang tampil memerankan sosok Kolonel Sungkono, pemimpin legendaris yang memimpin pertahanan Surabaya dalam pertempuran bersejarah 10 November 1945. Di sampingnya, Ketua TP PKK Surabaya sekaligus istrinya, Rini Indriyani, memerankan Ibu Pertiwi yang menyampaikan doa dan amanat perjuangan sebelum para pejuang berangkat menghadapi musuh.

“Ini bukan sekadar sandiwara. Ini pesan bahwa semangat Kolonel Sungkono dan ribuan pemuda Surabaya harus terus hidup di hati kita,” ujar Eri saat ditemui di sela-sela acara Minggu (1/11/2026).

Rangkaian pembuka berlangsung khidmat saat bendera Merah Putih diserahkan oleh perwakilan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) kepada Wali Kota, lalu diteruskan kepada Paskibraka Surabaya — simbol pemberangkatan parade sekaligus amanat bahwa tonggak perjuangan kini berada di tangan generasi penerus.

Kisah yang Tak Pernah Usang: Sepak Bola dan Senjata

Salah satu momen yang paling menggetarkan hati penonton adalah diangkatnya kisah Soegiarto, pemain legendaris Persebaya Surabaya era 1930-an yang memilih meninggalkan lapangan hijau dan memegang senjata demi mempertahankan kemerdekaan. Aksi teatrikal dimulai dengan suasana riang saat Soegiarto dan kawan-kawan bermain bola, yang seketika berubah mencekam saat terdengar kabar datangnya ultimatum dari pihak Sekutu.

“Ini cerita yang harus diketahui anak-anak muda bahwa pahlawan itu bukan hanya mereka yang memegang senjata sejak lahir, tetapi juga mereka yang rela meninggalkan kenyamanan demi sebuah kebenaran,” ujar Herry Purwadi, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya.

Parade ini melibatkan 2.150 peserta mulai dari LVRI, TNI, Polri, Paskibraka, komunitas pecinta sejarah, pemuda, hingga masyarakat umum. Setiap kelompok yang berjalan di sepanjang rute tak sekadar berbaris, mereka menghadirkan koreografi dan atraksi yang menceritakan fragmen-fragmen sejarah pertempuran Surabaya.

Perjuangan Belum Berakhir

Di hadapan sekitar 170.000 penonton yang memadati rute parade, Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan pesan yang menusuk hati: perjuangan arek-arek Suroboyo belum usai.

“Kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan jika masih ada warga yang hidup dalam kemiskinan. Perjuangan kita hari ini adalah memastikan tidak ada anak Surabaya yang putus sekolah, tidak ada keluarga yang tak punya tempat tinggal layak. Itulah bentuk penghormatan terbaik bagi para pahlawan kita,” tegas Eri dengan suara lantang yang bergema di sepanjang Jalan Pahlawan.

Pesan itu disambut tepuk tangan meriah. Bagi banyak warga yang hadir, Parade Surabaya Juang bukan sekadar hiburan atau peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa keberanian yang ditunjukkan arek-arek Suroboyo 81 tahun lalu harus diterjemahkan dalam tindakan nyata membangun kota.

“Saya membawa tiga cucu ke sini. Saya ingin mereka tahu bahwa kebebasan yang kita nikmati hari ini ada harganya, dan tugas kita adalah menjaganya,” ungkap Sutini (68), warga Wonocolo yang datang sejak pukul 12 siang bersama keluarganya.

Lebih dari Sebuah Pawai

Parade Surabaya Juang 2026 juga meninggalkan dampak yang lebih luas. Dari sisi penyelenggaraan, acara ini turut menggerakkan ekonomi warga sekitar — puluhan pelaku UMKM di kawasan Kecamatan Genteng membuka stan makanan dan cenderamata yang dikunjungi ribuan pengunjung. Bahkan, liputan acara ini diminati dua stasiun televisi luar negeri, Prancis dan Korea Selatan, membuktikan bahwa sejarah Surabaya memiliki daya tarik global.

Saat matahari mulai terbenam dan barisan terakhir parade tiba di Balai Pemuda, satu hal terasa jelas: api semangat “Suroboyo Wani” tak pernah padam. Ia hanya menunggu momen untuk dinyalakan kembali dan sore di awal November 2026 itu, sejarah benar-benar berjalan kembali di jalanan Kota Pahlawan. (Om_mbes)