Mengapa “Raja Dangdut” Rhoma Irama Tegas Mendukung PWI-LS?

H.Rhoma Irama dan Dr. KH. Muhammad Abbas Billy Yachsy (foto: ist)

Beritaloka.com – Di tengah hiruk-pikuk dinamika keagamaan dan sosial-budaya yang memanas di Indonesia, satu pernyataan mengejutkan sekaligus menegaskan sikap tokoh publik terkemuka mengemuka: H. Rhoma Irama, legenda musik dangdut yang juga dikenal sebagai pendakwah, secara terbuka dan tegas menyatakan dukungan penuhnya kepada Perjuangan Walisongo Indonesia – Laskar Sabilillah (PWI-LS). Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan buah dari keprihatinan mendalam dan kesamaan visi yang kuat antara sosok yang dijuluki “Raja Dangdut” ini dengan perjuangan ormas tersebut.

Mengenal PWI-LS: Apa dan Siapa di Baliknya

PWI-LS adalah organisasi kemasyarakatan keagamaan yang didirikan pada 29 Agustus 2023 di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, oleh sejumlah tokoh ulama kalangan Nahdliyin, dikukuhkan melalui deklarasi di Cilacap pada 6 Oktober 2023. Dipimpin oleh Dr. KH. Muhammad Abbas Billy Yachsy, ormas ini lahir dari keresahan para kiai dan santri atas maraknya paham keagamaan yang dinilai menyimpang dari jalan Islam Nusantara serta munculnya klaim-klaim nasab yang tidak terverifikasi.

Tidak terafiliasi secara resmi sebagai badan otonom NU, PWI-LS berdiri secara independen dengan visi:

  • Menjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ala Walisongo
  • Meluruskan sejarah dan menolak klaim keturunan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
  • Memperkuat keutuhan NKRI berlandaskan Pancasila dan UUD 1945
  • Membendung paham transnasional yang memecah belah persatuan bangsa

Keterpanggilan Jiwa Seorang Penjaga Marwah

Bagi Rhoma Irama, keputusan mendukung PWI-LS bukanlah langkah yang diambil sembarangan. Dalam pidato pelantikan pengurus PWI-LS se-Jabodetabek yang berlangsung di kediaman sekaligus markas Soneta Record miliknya, Depok, pada 27 Juli 2025, beliau menyampaikan:

“Saya terpanggil untuk ikut dalam perjuangan PWI-LS karena saya peduli terhadap kelestarian nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Nusantara serta menjaga marwah Rasulullah SAW dan keutuhan NKRI.” ungkapnya.

Rhoma melihat adanya ancaman nyata terhadap kemurnian sejarah Islam di Indonesia. Ia memprihatinkan fenomena di mana gelar keagamaan disalahgunakan, muncul tokoh-tokoh yang mengaku keturunan Nabi padahal tidak dapat dibuktikan keabsahannya, hingga bermunculan makam-makam fiktif yang menyesatkan umat.

“Paham Ba’alawi yang menyimpang mulai meresahkan. Banyak muncul habib palsu dan makam-makam fiktif yang justru menyesatkan umat. Saya melihat kehadiran PWI-LS bisa menjadi oase yang mencerahkan sejarah Islam yang benar, termasuk peran besar Walisongo dan Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban Islam di Indonesia,” tegasnya.

Satu Garis Perjuangan: Dakwah yang Membumi dan Berkemajuan

Rhoma Irama dikenal sepanjang puluhan tahun berkarya sebagai seniman yang menjadikan musik dangdut sebagai sarana dakwah Islam yang damai, membumi, dan mencintai tanah air. Lagu-lagu seperti “Keramat”, “Darah Muda”, hingga “Perjuangan dan Doa” senantiasa mengajak umat beriman sekaligus mencintai bangsa.

Semangat ini ternyata beririsan dengan apa yang diperjuangkan PWI-LS: mengembalikan kemuliaan Islam Nusantara yang dibawa para Wali Songo  Islam yang egaliter, tidak membedakan manusia atas dasar darah atau nasab, melainkan atas dasar ketakwaan dan amal saleh.

Rhoma mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan garis keturunan sebagai ukuran keistimewaan seseorang. Dalam pandangannya, kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari silsilah, melainkan dari akhlak dan pengabdian kepada sesama. Pesan ini berulang kali ia sampaikan di berbagai acara pelantikan PWI-LS, termasuk di Alun-Alun Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, pada 29 Agustus 2026.

Menolak Adu Domba, Menegakkan Persatuan

Dukungan Rhoma Irama datang di tengah memanasnya ketegangan antara PWI-LS dengan kelompok lain, pasca insiden bentrok di Pemalang pada 23 Juli 2025 yang merenggut korban jiwa, serta ancaman gangguan terhadap acara pelantikan di kediamannya sendiri. Alih-alih mundur, Rhoma justru semakin teguh berdiri di garis perjuangan.

Ia menegaskan bahwa PWI-LS bukan ormas kekerasan, melainkan wadah yang mengajak pada kebenaran dengan cara yang santun dan beradab. Ketika kelompok lain datang berusaha menggagalkan acara pelantikan dengan kekuatan massa, Rhoma dan PWI-LS memilih tetap tenang, taat hukum, dan tidak terpancing emosi.

“Ini bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang paling istiqomah menjaga persatuan,” ujar Rhoma di hadapan ribuan warga yang memadati acara pelantikan Jawa Barat.

Dukungan Rhoma Irama terhadap PWI-LS lahir dari kesadaran mendalam bahwa menjaga kebenaran sejarah, menjaga kemurnian ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah tanggung jawab bersama.

Bagi sang Raja Dangdut, PWI-LS hadir bukan untuk memecah, melainkan untuk mencerahkan kembali mengembalikan wajah Islam Nusantara sebagaimana dicontohkan para Wali Songo: damai, adil, merata, dan mencintai tanah air.

Langkah Rhoma Irama ini menjadi bukti nyata bahwa tokoh seni dan tokoh agama dapat bersatu dalam satu barisan: menjaga bangsa, menjaga iman, dan menjaga persatuan di tengah badai perpecahan yang mengancam dari segala arah. (loka_djaya)

*) Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan resmi H. Rhoma Irama dalam berbagai kesempatan publik dan laporan media terkait kegiatan PWI-LS.