Dangke: Keju Tradisional Asli Enrekang, Warisan Nusantara yang Kaya Gizi dan Bernilai Ekonomi

Sajian Dangke, keju asli Nusantara yang penuh gizi (foto: Beritaloka)

Beritaloka.com – Ketika kita mendengar kata “keju”, bayangan banyak orang langsung tertuju pada produk impor dari luar negeri. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisional yang tak kalah istimewa. Salah satunya adalah Dangke, keju tradisional asli masyarakat Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Produk ini bukan sekadar makanan sehari-hari, melainkan warisan budaya turun-temurun yang kini semakin diakui potensinya, baik dari sisi gizi maupun ekonomi.

Asal-Usul dan Cara Pembuatan yang Unik

Dangke telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Enrekang. Keunikan utamanya terletak pada proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Dangke dibuat dari susu segar — utamanya susu kerbau — yang dipanaskan, lalu digumpalkan menggunakan getah pepaya. Getah pepaya mengandung enzim bernama papain, yang berfungsi memecah dan menggumpalkan protein susu tanpa perlu bahan kimia atau kultur bakteri buatan. Inilah yang menjadikan dangke berbeda dari kebanyakan keju modern lainnya.

Setelah susu menggumpal, gumpalan (curd) dipisahkan dari airnya, lalu dicetak hingga padat namun tetap bertekstur lembut. Warnanya putih bersih hingga sedikit kekuningan, dengan rasa yang gurih dan ringan. Jika susu kerbau sulit didapat, masyarakat juga menggunakan susu sapi, kambing, atau domba, tergantung ketersediaan bahan baku di sekitar lingkungan mereka.

Nilai Gizi yang Teruji Secara Ilmiah

Daya tarik dangke bukan hanya pada rasanya. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) membuktikan bahwa dangke memiliki kandungan makronutrien yang baik dan berpotensi sebagai sumber protein nabati-hewani yang berkualitas. Penelitian ini mengkaji secara mendalam kandungan protein, lemak, karbohidrat, serta kadar air dalam dangke, membuktikan bahwa makanan tradisional ini memiliki nilai gizi yang layak diandalkan sebagai pangan harian.

Sementara itu, Prof. Dr. drh. Ratmawati Malaka, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, bersama timnya menegaskan bahwa dangke merupakan keju tradisional khas Enrekang yang memiliki prospek pengembangan sangat besar. Bahkan, Unhas Press secara resmi mencatat dangke sebagai produk olahan susu yang penting untuk diteliti lebih lanjut, baik dari sisi proses produksi, standarisasi mutu, maupun pemanfaatannya di masa depan.

Dari Lauk Pendamping Menjadi Produk Kekinian

Selama puluhan tahun, dangke umumnya dinikmati secara sederhana — dipanggang sebentar di atas api, lalu disantap bersama nasi hangat dan sambal. Namun seiring berjalannya waktu, kreativitas masyarakat membuat dangke kini hadir dalam berbagai bentuk olahan baru. Mulai dari camilan kekinian, bahan utama hidangan modern, hingga produk kemasan yang siap dijual ke luar daerah.

Transformasi ini membuka peluang ekonomi yang sangat menjanjikan. Dengan cita rasa yang khas, tekstur yang lembut, serta nilai gizi yang telah teruji, dangke kini semakin dikenal tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga ke berbagai daerah di Indonesia. Kehadirannya adalah bukti nyata bahwa pangan tradisional warisan leluhur Indonesia tidak hanya kaya rasa, tetapi juga memiliki nilai ilmiah dan potensi ekonomi yang layak untuk terus dikembangkan dan dibanggakan. (Zainul_fanani)