Teks Lokajaya: Intisari Perjalanan Seseorang, Hingga Menemukan Jati Dirinya

Sunan Kalijaga (Diperankan oleh model)

Beritaloka.com – Di tengah kekayaan warisan sastra klasik Jawa, teks Lokajaya menempati kedudukan istimewa. Teks yang mengisahkan perjalanan hidup tokoh Lokajaya, atau yang dikenal juga sebagai Sekh Malaya dan Sunan Kalijaga, ini bukan sekadar cerita biasa. Lebih dari itu, teks ini melukiskan perjuangan seorang insan menuju tingkat kesempurnaan manusia, yang terjalin melalui dua ikatan utama: hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan Sang Khaliq.

Dalam kisahnya, terlihat jelas bagaimana tokoh Lokajaya menjalin hubungan sesama manusia, khususnya sebagai murid yang sangat menghormati dan menaati gurunya, Sunan Bonang. Segala perintah yang diberikan guru dijalani dengan sepenuh hati.

Sementara hubungan manusia dengan Tuhan tampak nyata dalam perjalanan menjalankan amanat guru. Atas perintah Sunan Bonang, ia berangkat ke Mekkah untuk mengambil air Zamzam. Namun di tengah perjalanan, ia justru menyimpang melintasi samudra dan bertemu dengan guru ilmu kebatinan, Nabi Khidir. Di sanalah ia menerima wejangan mendalam tentang ilmu ketuhanan, hingga akhirnya mampu menemukan jati diri sejatinya.

Teks Lokajaya Sebagai Sumber Penelitian

Manuskrip atau teks Lokajaya terbagi menjadi naskah sakral dan naskah kurang sakral. Ciri yang paling nyata adalah naskah sakral ditulis dengan huruf Arab, sedangkan yang kurang sakral ditulis menggunakan huruf Jawa.

Sebagian besar sumber yang memuat teks Lokajaya masih berupa naskah kuno. Hal ini memunculkan hal-hal penting yang perlu diteliti, antara lain jumlah naskah yang ada, kedudukan masing-masing naskah, versi teks yang dimuat, serta kapan dan di mana teks itu ditulis.

Ditinjau dari kualitas isinya, naskah Lokajaya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu naskah dengan bacaan yang baik dan yang kurang baik. Jika dilihat dari segi kesakralannya, teks ini terbagi menjadi naskah sakral dan naskah kurang sakral. Ciri yang paling nyata adalah naskah sakral ditulis dengan huruf Arab, sedangkan yang kurang sakral ditulis menggunakan huruf Jawa.

Menariknya, sejalan dengan isi teks yang sarat ajaran tasawuf, naskah yang bersifat sakral ternyata sekaligus memiliki kualitas bacaan yang paling baik. Oleh karena itu, naskah inilah yang dijadikan pegangan utama dalam penelitian, yang selanjutnya akan disunting dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dibaca dan dipahami lebih luas.

Mengkaji Struktur dan Asal-Usul Teks

Penelitian juga menyoroti struktur teks sakral Lokajaya yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu struktur formal dan struktur cerita. Struktur mencakup corak bahasa, gaya penulisan, serta ragam bahasa yang digunakan. Sedangkan struktur cerita menelusuri tema pokok, alur perjalanan kisah, hingga watak dan penokohan di dalamnya.

Selain itu, teks Lokajaya juga diperkaya dari kumpulan teks suluk dan babad. Teks-teks suluk seperti Asmarakandhi, Kitab Bonang, Suluk Wijil, serta ajaran “Martabat Tujuh” dimanfaatkan untuk memperkuat nuansa keislaman. Sementara karya babad seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Bayat melengkapi alur cerita agar kisah terasa lebih utuh. Peneliti pun menelusuri bagaimana proses pengolahan, perubahan, dan alasan penulis menggabungkan berbagai sumber tersebut hingga menjadi teks Lokajaya yang kita kenal kini.

Pesan Luhur di Balik Kisah Lokajaya

Teks Lokajaya tak hanya menjadi warisan masa lalu yang tersimpan rapi di lemari naskah. Lebih dari itu, kisah perjalanan seorang tokoh mencari jati diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan tetap relevan menjadi cermin kehidupan masa kini. Sebuah bukti nyata bahwa sastra klasik Jawa masih menyimpan pesan abadi yang patut dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Fr.Rohman)