PMI & Harhubnas Ke-81, Euforia Dua Hari Jadi Nasional

Antara Merah (PMI ) dan abu-abu muda (dishub) keduanya lahir di hari yang sama (foto: ist)

Beritaloka.com – 17 September tahun ini jatuh bertepatan dengan dua peringatan penting sekaligus, Hari Ulang Tahun ke-81 Palang Merah Indonesia (PMI) dan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas). Meski sama-sama bersejarah, keduanya tidak masuk dalam daftar hari libur resmi, sehingga seluruh aktivitas masyarakat dan jam kerja tetap berjalan seperti biasa, kamis (17/9/2026).

Sejarah PMI bermula jauh sebelum organisasi ini resmi berdiri. Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga era kolonial, saat berdiri organisasi Palang Merah versi Belanda bernama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) pada 1873. Setelah pendudukan Jepang membubarkan NERKAI, sejumlah dokter Indonesia, termasuk R.C.L. Senduk dan Bahder Djohan, sempat mengupayakan pendirian palang merah versi pribumi pada 1932 . namun ditolak keras oleh pemerintah kolonial.

Barulah setelah proklamasi kemerdekaan, Presiden Soekarno memerintahkan pembentukan organisasi Palang Merah Nasional. Perintah itu ditindaklanjuti Dr. Buntaran, Menteri Kesehatan dalam kabinet pertama Indonesia, dengan membentuk Panitia Lima pada 5 September 1945. Dua belas hari kemudian, tepatnya 17 September 1945, PMI resmi berdiri di bawah kepemimpinan Mohammad Hatta. Momen itulah yang hingga kini diperingati setiap tahun sebagai HUT PMI, dan tahun ini genap memasuki usia ke-81 dengan tema “Peduli, Bergerak, Bersama”.

Di sisi lain, Harhubnas memiliki latar belakang yang berbeda. Peringatan ini lahir dari sebuah Keputusan Menteri yang menyatukan hari jadi atau hari bakti dari berbagai organisasi dan lembaga di sektor perhubungan menjadi satu peringatan nasional, yang kemudian ditetapkan jatuh setiap 17 September.

Selain dua peringatan nasional tersebut, tanggal ini juga bertepatan dengan sejumlah peringatan internasional, di antaranya Hari Keamanan Pasien Internasional (World Patient Safety Day) yang menyoroti pentingnya keselamatan pasien dalam layanan kesehatan.

Perpaduan kedua peringatan bertema kemanusiaan dan konektivitas di tanggal yang sama terasa relevan, keduanya sama-sama menyoal bagaimana negara dan masyarakat saling menjangkau, baik lewat pertolongan darurat maupun jalur transportasi yang menghubungkan wilayah. Meski tak berstatus hari libur, nilai dari kedua peringatan ini tetap layak jadi pengingat di tengah rutinitas harian.(Sakur)