Mbah Pramu: Sosok Seniman Sepuh dan Penjaga Leluhur Budaya Banyuwangi

Mbah Pramu, seniman senior dan sesepuh budayawan Banyuwangi (foto/Beritaloka)

Beritaloka.com – Di tengah riuhnya ribuan penari yang bergerak harmonis mengikuti irama musik tradisional di panggung terbuka Banyuwangi, selalu ada satu sosok yang berdiri tenang, diam namun memancarkan aura yang memikat hati siapa pun yang memandangnya. Rambut putih panjang terurai, penampilan nyentrik namun berwibawa, senyumnya tulus menyapa siapa saja yang menghormati budaya tanah kelahirannya.

Dia adalah Mbah Pramu, seniman senior dan sesepuh budayawan Banyuwangi yang kehadirannya selalu dinanti di setiap acara besar di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Mbah Pramu dikenal luas masyarakat Banyuwangi sebagai sesepuh yang selalu tampil dalam acara-acara sakral dan festival budaya terbesar di daerah itu. Nama beliau kerap muncul dalam gelaran Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), hingga pertunjukan seni bertema spiritual seperti teater Nyonggo Langit.

Penampilannya yang khas rambut putih panjang yang terurai, pakaian tradisional sederhana namun sarat makna, serta sering membawa kemenyan saat prosesi sakral membuatnya menjadi ikon yang tak terpisahkan dari identitas budaya Banyuwangi.

Dalam setiap penampilannya di Gandrung Sewu, Mbah Pramu bukan sekadar hadir sebagai penonton kehormatan. Beliau menjadi bagian dari prosesi sakral pembuka acara, yang memberikan kesan magis dan mendalam bagi ribuan penari maupun penonton yang hadir. Di bawah cahaya rembulan di tepian Selat Bali, kehadirannya seolah menjembatani masa lalu dan masa kini.

Di balik penampilannya yang misterius, Mbah Pramu memiliki pandangan yang sangat bijaksana dan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan budaya.

Dalam sebuah wawancara di sela-sela acara Teater Misteri Nyonggo Langit, seniman senior ini menegaskan bahwa pawang tak selalu urusan hujan. “Tiap pawang mesti mikirnya udan (hujan, red), padahal yoga udan nggak usah dipikir. Itu anugerah. Kalau memang kehujanan, cari sisi lainnya yang indah. Semua itu anugerah Tuhan” tegasnya.

Kalimat sederhana ini menggambarkan filosofi hidup Mbah Pramu, tidak melawan keadaan, melainkan mencari sisi positif dari setiap peristiwa. Beliau juga menekankan bahwa budaya bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan cerminan jiwa masyarakat yang hidup di atas tanah ini.

Mbah Pramu dianggap sebagai penjaga nilai-nilai leluhur masyarakat Suku Osing penduduk asli Banyuwangi yang memiliki kekayaan budaya tersendiri. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, kehadiran beliau menjadi pengingat bahwa akar budaya tidak boleh diputus begitu saja. Mbah Pramu selalu mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk bangga menjadi bagian dari identitas Banyuwangi yang unik.

“Suku Osing yang nggak punya senjata tajam seperti daerah lain, tapi kekuatan terbesar kita adalah budaya dan kebersamaan yang kita jaga bersama,” demikian pesan yang sering ia sampaikan dalam kesempatan pertemuan warga.

Bagi warga Banyuwangi, Mbah Pramu bukan sekadar tokoh masyarakat, melainkan simbol keabadian budaya mereka. Banyak warga yang mengungkapkan rasa hormat sekaligus kekaguman kepadanya di media sosial.

“Setiap melihat beliau hadir di Gandrung Sewu, rasanya seperti ada restu dari leluhur kita. Terima kasih Mbah Pramu sudah terus mengingatkan kita siapa asal-usul kita,” tulis salah satu warga di akun media sosial Banyuwangi_id.

Sementara itu, generasi muda Banyuwangi melihat Mbah Pramu sebagai jembatan yang menghubungkan mereka dengan warisan leluhur yang mulai terlupakan. Kehadirannya di festival-festival modern membuktikan bahwa budaya tradisional dan gaya hidup masa kini bisa berdampingan dengan indah.

Seperti halnya, pada gelaran Gandrung Sewu 2026 yang berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Banyuwangi, Mbah Pramu kembali tampil memukau di hadapan ribuan penari dan penonton. Di bawah konsep “Glow in the Dark” dengan latar rembulan dan deburan ombak Selat Bali, kehadiran beliau di panggung pembuka membuat suasana menjadi begitu sakral dan emosional.

Banyak yang berharap sisok Mbah Pramu selalu diberi kesehatan untuk terus mendampingi perjalanan budaya Banyuwangi di tahun-tahun mendatang. Sebagaimana lantunan syair yang sering diiringi kehadirannya: ‘Rahayu, Rahayu, Sagung Dumadi’ yang artinya, semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyertai kita semua. (Ih_san)