Jejak Pengabdian Suwono, Dari Makam Peneleh Menuju Makam Kapas Krampung

Beritaloka.com – Di antara puluhan kawasan pemakaman yang tersebar di seluruh penjuru kota, Makam Kapas Krampung memiliki ciri khas yang tak dimiliki tempat lain, menyatu dengan pemukiman dan jalur lalu lintas warga. Dan di sinilah, Suwono, kini mendapat amanah sebagai Kepala Makam Kapas Krampung, dia mendedikasikan diri menjaga ketenangan dan kehormatan tempat ini.
Pengabdian Suwono di dunia pelayanan pemakaman bukanlah hal yang baru. Sebelum dipercaya memegang tanggung jawab sebagai Kepala Makam Kapas Krampung, dirinya telah lama mengabdi dan menjaga kawasan bersejarah lainnya, Makam Peneleh.
Pengalaman bertahun-tahun merawat makam yang penuh nilai sejarah dan dikunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah, yang kini ia tunjukkan di Kapas Krampung.
Berpindah dari kawasan yang tenang dan sarat sejarah ke tempat yang hidup berpadu dengan keramaian lalu lintas, menjadi tantangan sekaligus pengalaman baru. Namun bagi Suwono, esensi tugasnya tetap sama: menjaga tempat peristirahatan leluhur, melayani keluarga yang berduka, dan menumbuhkan rasa hormat di kalangan warga.
Suasana kerja Suwono nyata terlihat saat awak media Beritaloka.com menemuinya di lokasi. Saat itu, dirinya sedang sibuk memotong ranting pohon Bintaro yang menjulur ke arah jalur peziarah. Ranting yang sudah mulai rimbun dan menjuntai ke bawah dikhawatirkan dapat menabrak atau melukai warga yang datang berziarah, terutama lansia dan anak-anak yang berjalan di bawahnya.
Dengan hati-hati, Suwono memastikan setiap cabang yang berpotensi membahayakan telah dipangkas dan dibersihkan. “Tidak boleh ada satu pun ranting yang berpotensi menggangu mereka yang datang berkunjung,” ujarnya Kamis (24/9/2026).
Tindakan sederhana itu mencerminkan kepeduliannya yang mendalam, bukan sekadar memerintah, melainkan turun langsung bekerja, memastikan setiap sudut aman bagi siapa saja yang datang.
Komitmen: Lima Tahun ke Depan, Tetap Memberi Pelayanan Terbaik
Di tengah kesibukan merawat kawasan makam yang setiap hari dilewati ribuan orang, Suwono membuka hati mengenai masa pengabdiannya. Beliau mengakui, masa pensiun bukan lagi hal yang jauh, namun semangatnya belum meredup.
“Setidaknya sebelum saya pensiun, dalam jangka waktu lima tahun ke depan ini, saya bertekad memberikan pelayanan yang terbaik,” tegasnya.
Tekad itu bukan sekadar ucapan. Di bawah arahannya, sejumlah hal terus diperbaiki:
- Penataan jalur peziarah agar lebih lebar, aman, dan nyaman dilalui
- Pemangkasan rutin pepohonan agar tidak menutupi jalan maupun mengganggu makam
- Pencatatan dan pemeliharaan makam secara tertib, sehingga tidak ada makam yang terabaikan
- Penyebaran kesadaran kepada warga yang melintas agar memperlakukan kawasan ini dengan hormat, memperlambat laju kendaraan, tidak membunyikan klakson, dan menjaga kebersihan.
Di Tengah Keramaian, Tetap Menjaga Martabat
Berbeda dengan TPU Keputih yang luas mencapai ±35 hektar dengan fasilitas lengkap, maupun TPU Kembang Kuning yang kaya sejarah, Makam Kapas Krampung memiliki keunikan tersendiri — makam dan kehidupan warga berjalan berdampingan. TPU Babat Jerawat dan Ngagel Rejo diketahui berstatus padat dan tumpang lahan, namun di Kapas Krampung, kepadatan itu disikapi dengan kesabaran dan ketelatenan.
Diketahui, Kotamadya Surabaya mengelola 13 Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemerintah Kota beserta 1 krematorium di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sejak 1 Januari 2024, seluruh layanan pemakaman di TPU Pemkot disajikan secara gratis bagi seluruh warga, menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap penghormatan terakhir bagi warganya.
Suwono menyambut baik kebijakan pemakaman gratis yang berlaku sejak awal 2024, “Keluarga yang ditinggalkan sudah cukup berduka. Tidak seharusnya mereka terbebani biaya. Kebijakan ini sangat meringankan, dan kami pastikan pelayanannya tetap bermartabat, sama persis seperti layanan untuk keluarga sendiri” pungkasnya. (Fatur)







