Dynta Nabila: Sosok MC Di Muktamar NU Ke-35 Yang Multi Talenta

Dynta Nabila Mahtristhasufi (foto:ist)

Beritaloka.com –  Dibalik Suksesnya acara : Forum Silaturahmi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) International Tambakberas, pada 28–29 Agustus 2026, Ada Sosok MC (Master Of Ceremony) yang multi talenta. MC diacara itu adalah Dynta Nabila Mahtristhasufi,

Forum tersebut mengangkat tema ‘Peran Alumni dan PCI NU dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi & Pengembangan Ekosistem Industri Halal Indonesia’.

Selama dua hari, Dynta memandu rangkaian kegiatan mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Setelah menyelesaikan tugas sebagai MC, ia kembali melanjutkan khidmahnya dengan menyambut tamu dan para muktamirin.

Ada perjalanan panjang di balik peran tersebut. Tambakberas pernah menjadi tempat Dynta belajar.

Sejak 2024, ia kembali ke lingkungan pesantren sebagai pengajar. Kini, pada Agustus 2026, ia juga memulai perjalanan baru sebagai mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang (UM).

Tiga fase itu: santri, guru, dan kandidat doktor, bertemu dalam satu momentum.

“Dulu saya datang ke Tambakberas untuk menuntut ilmu. Hari ini saya kembali untuk berkhidmah di pesantren,” ujar Dynta menceritakan pengalaman saat berkhidmah (bertugas.red) di Muktamar ke-35 NU, Senin (14/9/2026). 

Tumbuh dari Tradisi Madrasah dan Pesantren

Lahir di Jombang pada 10 Desember 1998, perjalanan pendidikan Dynta sejak awal tidak jauh dari lingkungan madrasah dan pesantren.

Ia menempuh pendidikan dasar di MIN 1 Kauman Utara Jombang, kemudian melanjutkan ke Kelas Unggulan MTsN 3 Tambakberas Jombang.

Pada 2014–2017, Dynta bersekolah di MAN 1 Jombang pada program Ilmu-Ilmu Bahasa. Pada masa yang sama, ia menjadi santri di PP Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum di bawah asuhan KH Abdul Latif Malik, Lc., M.Pd. atau Gus Latif.

Di pesantren, Dynta mengikuti pendidikan diniyah sekaligus mempelajari Kitab Kuning. Lingkungan tersebut kemudian memperkuat ketertarikannya terhadap bahasa, teks, pendidikan, dan tradisi intelektual Islam.

Selepas pendidikan menengah, Dynta melanjutkan studi S1 Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Ketertarikannya terhadap khazanah intelektual Islam berkembang melalui kajian maqamat sufistik dalam Fihi Ma Fihi karya Jalaluddin Rumi.

Di bangku kuliah, Dynta tidak hanya berkutat dengan dunia akademik.

Ia aktif sebagai President & Host Humaniora TV UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan mengembangkan pengalaman sebagai host, jurnalis, kreator konten, serta pengelola komunikasi digital.

Pada 2021, ia juga terpilih mewakili UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam Istanbul Youth Summit (IYS) di Istanbul, Turki.

Pengalaman tersebut memperluas ruang geraknya dari lingkungan pesantren dan kampus menuju forum kepemudaan internasional.

Perjalanan akademik Dynta berlanjut ke jenjang Magister Bahasa dan Sastra Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Ia menyelesaikan studi S2 pada 2023 dengan IPK 3,75 dan predikat cumlaude, sebelum mengikuti prosesi wisuda pada 2025. Tesisnya berjudul ‘Tasawuf Akhlaqi dalam Kitab ar-Rasa’il karya Jalaluddin Rumi: Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur’.

Minat terhadap bahasa Arab, sastra, tasawuf, teks, dan pemikiran terus menjadi benang merah dalam perjalanan intelektualnya. Pada 2021, Dynta juga menjadi salah satu penulis buku Pragmatik: Tindak Tutur yang diterbitkan Edulitera.

Dari kajian bahasa dan sastra, perhatian Dynta kemudian berkembang pada persoalan yang lebih luas: bagaimana ilmu dipahami, diajarkan, diwariskan, dan dikembangkan di tengah perubahan zaman.

Sejak 2024, Dynta kembali ke lingkungan pesantren sebagai pengajar. Ia mengajar di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum (MABU) Tambakberas dan MA Ilmu Al-Qur’an PP Al Amanah.

“Di MA BU Tambakberas saya ngajar mata pelajaran Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, public speaking, dan muhadatsah,” ungkapnya. 

Pengalaman mengajar mempertemukannya dengan generasi pelajar yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital.

Dari ruang kelas tersebut, perhatian Dynta kemudian berkembang pada persoalan mengenai bagaimana pembelajaran Bahasa Arab dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan fondasi keilmuannya.

Pertanyaan itulah yang kemudian membawanya ke jenjang doktoral.

Pada 18 Agustus 2026, Dynta memperoleh LoA Unconditional untuk Program Doktor Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Perkuliahan semester gasal dimulai pada 24 Agustus 2026.

Program tersebut memiliki beban studi 52 SKS dengan mata kuliah yang mencakup Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, analisis data pendidikan, Teori dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab, Linguistik Arab Terapan, pengembangan kurikulum dan asesmen pembelajaran Bahasa Arab, hingga Teknologi dan Multimedia dalam Pembelajaran Bahasa Arab.

Riset yang diusung Dynta dalam proposal doktornya berjudul ‘Rekonstruksi Epistemologis Konsep Ilmu dalam Syi‘ir Ta‘lim al-Muta‘allim Perspektif Muhammad ‘Abid al-Jabiri untuk Pengembangan Pendidikan Bahasa Arab di Era Digital’.

Kajian tersebut berangkat dari persoalan epistemologi dan konsep ilmu, kemudian menghubungkannya dengan pengembangan Pendidikan Bahasa Arab di tengah perkembangan teknologi.

Pengalaman sebagai santri, pengajar Bahasa Arab, akademisi Bahasa dan Sastra Arab, sekaligus generasi yang tumbuh dalam transformasi digital, menjadi bagian dari latar perjalanan akademiknya.

Di luar dunia pendidikan dan pesantren, Dynta juga mengembangkan aktivitas kewirausahaan dan ekosistem digital melalui DKU Donuts Latteshop Cafe serta DKU Latteshop Training Center (LTC).

Aktivitasnya mencakup pengembangan usaha, pelatihan kuliner, digital marketing, digital branding, pembuatan konten, voice over, hingga produksi konten YouTube.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan Dynta tidak hanya berada di antara pesantren dan kampus. Ia juga bersinggungan dengan dunia kewirausahaan, media, dan teknologi.

Identitas sebagai bagian dari generasi muda yang tumbuh di era digital kemudian menjadi salah satu konteks dalam perjalanan akademiknya.

Ketika teknologi dan multimedia menjadi bagian dari perkembangan pendidikan Bahasa Arab, pengalaman Dynta di ruang digital menemukan irisan dengan bidang yang kini ia dalami di jenjang doktoral.

Berkhidmah di Tengah Muktamar ke-35 NU

Perjalanan tersebut kemudian bertemu dengan momentum Muktamar NU ke-35.

Sebagai MC di Forum Silaturahmi PCINU Internasional dan Halaqoh PTNU, Dynta berada di tengah forum yang mempertemukan jejaring pendidikan tinggi NU, PCINU Internasional, tokoh pemerintahan, dan sejumlah pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan serta industri halal.

Forum tersebut dibuka oleh KH Abdul Lathif Malik, Lc., M.Pd. atau Gus Latif.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Menteri Haji dan Umrah RI Dr. K.H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., I.P.U., Kepala BPJPH Dr. H. Haikal Hassan Baras, S.T., M.T.c., Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. Emil Elestianto Dardak, Ph.D., serta Wakil Gubernur Jawa Tengah KH Taj Yasin Maimoen.

Hadir pula Ibu Nyai Hj. Hizbiya Rochim, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi UNWAHA, dan Ibu Nyai Hj. Churun ‘Ain Malik selaku Shohibul Bait Al-Muhajirin III Tambakberas. 

Selain bertugas sebagai MC, Dynta turut mengambil bagian dalam penyambutan muktamirin di PP Ar-Rohmah Tambakberas dan mengikuti Rakornas JATMAN di PP Al Amanah Tambakberas.

“Khidmah tersebut memiliki makna tersendiri karena dilakukan di lingkungan yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya,” ungkapnya. 

Tambakberas menjadi tempat di mana ia dahulu belajar. Kini, di tempat yang sama, ia mengambil bagian dalam forum yang mempertemukan tokoh pendidikan, jejaring NU internasional, dan pemangku kebijakan.

Kedekatan Dynta dengan dunia intelektual juga memiliki akar keluarga.

Kakeknya, Drs. RM Mukhsin Ahmadi (1935–2009), merupakan dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) IKIP Malang yang kemudian berkembang menjadi Universitas Negeri Malang.

Mukhsin Ahmadi dikenal sebagai akademisi, kritikus sastra, dan seniman. Ia mengajar Bahasa Indonesia, Filsafat Pancasila, Ilmu Budaya Dasar, dan Kritik Sastra.

Sejumlah buku pernah ditulisnya, antara lain Dasar-Dasar Komposisi Bahasa Indonesia, Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra, serta Penyusunan dan Pengembangan Paragraf. 

Jejak tersebut memberi warna tersendiri bagi perjalanan Dynta. Tradisi intelektual yang dahulu berkembang melalui ruang kuliah, bahasa, sastra, dan buku kini diteruskan dalam konteks generasi yang hidup bersama teknologi digital.

Muktamar ke-35 NU akhirnya menjadi salah satu titik pertemuan berbagai fase dalam perjalanan Dynta Nabila.

Ia pernah datang ke Tambakberas sebagai santri. Kemudian kembali sebagai guru. Kini, ia hadir sebagai kandidat doktor Pendidikan Bahasa Arab sekaligus mengambil bagian dalam ruang khidmah NU.

Dalam momentum Muktamar ke-35 NU, Dynta juga menyampaikan ucapan selamat kepada KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU terpilih masa khidmat 2026–2031.

Perjalanan Dynta memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan dunia akademik dan teknologi.

Dari madrasah, pesantren, perguruan tinggi, ruang kelas, dunia usaha, media, hingga ruang digital, satu benang merah terus terlihat: ilmu menjadi pijakan, pendidikan menjadi jalan, dan khidmah menjadi arah.

“Dari pengalaman diberbagai ruang tersebut untuk menekuni satu pertanyaan besar: bagaimana pendidikan Bahasa Arab dapat terus berkembang, adaptif terhadap teknologi, namun tetap berpijak pada tradisi keilmuan yang menjadi akarnya,” harapnya. (T_ind)