Arjuna Pangkas Rambut :  Langganan Para Petugas Haji

Muslikhin saat memangkas rambut pelanggan (foto: Beritaloka)

Beritaloka.com – Di Jalan Manyar Sabrangan Nomor 60, kawasan Klampis Ngasem, Surabaya Utara, sebuah papan nama sederhana bertuliskan “Arjuna Pangkas Rambut” berdiri tegak. Bagi warga sekitar, tempat ini bukan sekadar tempat memotong rambut. Di sini, ada cerita tentang ketekunan, perjuangan, dan semangat pantang menyerah yang mewujud dari tangan seorang pria sederhana bernama Muslikhin, 47 tahun.

Muslikhin memulai perjalanan usahanya ini pada tahun 2018. Dengan peralatan yang sederhana dan semangat yang besar, ia membuka Arjuna Pangkas Rambut. Usaha yang dirintisnya ternyata disambut baik oleh masyarakat sekitar. Tarif yang terjangkau dan pelayanan yang ramah membuat pelanggannya semakin hari semakin bertambah.

Kilas Balik dimasa Pandemi

Namun, tak ada yang menduga bahwa badai besar akan datang. Tahun 2020, pandemi COVID-19 melanda seluruh negeri, termasuk Surabaya. Pembatasan aktivitas masyarakat diberlakukan, dan tempat-tempat pelayanan langsung seperti pangkas rambut ikut terdampak berat.

Muslikhin mengakui, masa-masa itu adalah ujian terberat bagi usahanya. Jumlah pelanggan turun drastis. “Bisnis saya mengalami penurunan hingga 70 persen. Hampir saja saya menyerah. Tapi saya berpikir, kalau saya tutup, dari mana saya mencari nafkah untuk keluarga? Jadi saya bertahan, tetap buka sebisanya, mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, sambil menunggu keadaan membaik,” ungkapnya dengan nada yang tenang namun tegas.

Selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), pintu Arjuna Pangkas Rambut tetap terbuka sebatas yang diizinkan. Muslikhin menjaga harapan bahwa suatu hari nanti kehidupan akan kembali normal.

Seiring berjalannya waktu dan pencabutan pembatasan, masyarakat perlahan mulai beraktivitas kembali. Pelanggan lama satu per satu kembali datang. Muslikhin menyambut mereka dengan senyum dan pelayanan yang tidak berubah.

Kini, usahanya terus pulih dan tumbuh. Dengan tarif yang sangat bersahabat, Rp 15.000 untuk anak-anak dan Rp 18.000 untuk dewasa, warga sekitar tentu merasa terbantu. Rata-rata setiap hari ia melayani sekitar 15 hingga 20 orang. Namun pada momen-momen khusus, kedai kecil ini bisa sangat sibuk.

“Mendekati hari raya Lebaran, saya bisa melayani lebih dari 40 orang dalam sehari, dengan omzet mencapai 800 ribu rupiah sehari. Begitu juga saat musim keberangkatan haji tiba, banyak petugas PPIH yang datang memotong rambut di sini. Mereka menjadi pelanggan tetap saya setiap tahun,” cerita Muslikhin dengan wajah berseri-seri.

Harapan dan Langkah ke Depan

Keadaan yang terus membaik membuat Muslikhin berani bermimpi lebih besar. Setelah bertahan melewati masa sulit, ia kini menyiapkan langkah untuk mengembangkan usahanya.

Kisah Muslikhin dan Arjuna Pangkas Rambut adalah satu dari sekian banyak cerita warga kecil yang bertahan di tengah kerasnya persaingan usaha di Kota Pahlawan. Tidak ada kisah yang luar biasa besar, namun semangatnya patut diapresiasi: tetap berdiri saat sulit, melayani dengan hati, dan tidak berhenti bermimpi.

Di sudut Jalan Manyar Sabrangan itu, Muslikhin terus memotong rambut, bukan sekadar menata penampilan pelanggannya, tetapi juga menata masa depan keluarganya, sehelai demi sehelai, dengan ketekunan yang tak pernah terputus. (Fr.Rohman)