Gus Baha : ” Saya Termasuk Kiai Yang Sulit Diundang “

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha (foto;ist)

Beritaloka.com – Nama KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, kini menjadi salah satu ulama paling dicari kehadirannya di seluruh penjuru Nusantara. Ceramahnya yang mendalam namun sederhana, lugas namun penuh hikmah, membuat jutaan orang rindu mendengarkan langsung petuah beliau. Namun satu hal yang disadari siapa pun yang berniat mengundangnya: mengundang Gus Baha bukan perkara mudah, bahkan bisa dikatakan sangat sulit .

Banyak yang beranggapan kesulitan itu berkaitan dengan biaya atau tarif kehadiran. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Beliau bukan menolak karena nominal yang ditawarkan kurang, melainkan karena prinsip hidup, keikhlasan, dan kesetiaan pada kemurnian ilmu yang dipegang teguh sejak puluhan tahun silam.

Sosok yang Dihormati Bangsa

Gus Baha lahir di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada 29 September 1970. Beliau merupakan putra dari KH. Nursalim al-Hafizh, seorang ulama ahli Al-Qur’an dan pendiri Pondok Pesantren LP3IA. Dari garis keturunan ayah, Gus Baha adalah generasi keempat keluarga yang dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur’an, sementara dari garis ibu, beliau keturunan ulama besar Lasem, Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu .

Menimba ilmu sejak kecil di bawah bimbingan ayahnya, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu di bawah asuhan KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen), Gus Baha tumbuh menjadi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu Al-Qur’an secara mendalam, tetapi juga dikenal dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keteguhan prinsip . Kini beliau menjabat sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Narukan, Rembang.

Tiga Alasan Utama Kesulitan Mengundang Gus Baha :

  1. Menolak Orientasi Materi: Ilmu Bukan Barang Dagangan

Gus Baha sangat tegas memisahkan antara dakwah dan urusan materi. Beliau kerap menyindir secara halus pihak pengundang, tak terkecuali para pejabat tinggi  yang lebih sibuk membicarakan “pantesnya dikasih berapa” atau mengatur amplop, dibandingkan memikirkan esensi ilmu yang akan disampaikan dan manfaat yang akan dirasakan jamaah.

Pernah beliau menolak bantuan miliaran rupiah dari seorang donatur asing yang ingin membantu pembangunan pesantren. Alasannya sungguh menyentuh hati:

“Kalau saya terima dan fasilitas pondok menjadi bagus, takutnya saya malah mengajak orang kepada fasilitas, bukan kepada Allah. Buat pondok itu agar orang senang Tuhan. Kalau fasilitasnya banyak, orang suka fasilitas. Bagi saya ini musibah.” kelakarnya didepan jamaah.

Bagi Gus Baha, kehadiran di suatu tempat bukanlah transaksi jual-beli kehadiran, melainkan panggilan untuk berbagi manfaat ilmu. Jika niatnya sudah tercemar hitungan uang, maka esensi dakwah pun menjadi terganggu.

  1. Kesibukan dan Selektivitas: Menjaga Rutinas Pengajian di Pesantren

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren LP3IA yang menaungi ratusan santri, Gus Baha sangat menjaga keteraturan kegiatan mengajar di lingkungannya. Beliau tidak mudah meninggalkan kewajiban utama membimbing para santri. Setiap undangan akan diseleksi dengan ketat: apakah benar-benar mendesak, bermanfaat luas, dan tidak sekadar acara seremonial atau pencitraan.

“Saya ini termasuk Kyai yang susah diundang.” katanya didepan jamaah, dengan disambut tepuk tangan. Bukan karena sombong, melainkan karena menjaga keteguhan rutinas mengajar yang sudah berjalan puluhan tahun. Mengajarkan Al-Qur’an tidak bisa dilakukan sekadar datang sejam lalu pergi; butuh keberlanjutan, kedalaman, dan kesungguhan.

  1. Diakui Langsung oleh Pejabat Tinggi Negara

Kesulitan mengundang Gus Baha bahkan diakui secara terbuka oleh para pemimpin tertinggi di negeri ini. Bukti nyata terlihat ketika Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih menjabat sebagai Kapolri, bukan mengundang Gus Baha ke Mabes Polri, melainkan beliau sendiri yang datang langsung ke Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang .Di hadapan jajaran pimpinan Polri, Gus Baha menyampaikan pesan bahwa hubungan antara ulama dan umara harus didasari keikhlasan, bukan transaksi materi.

“Jangan dirembuk ‘Gus Baha dikasih berapa’, itu nggak ngawur itu,” ujar Gus Baha, menegaskan bahwa kehadiran seorang ulama tidak boleh diukur dengan nominal uang.

Diundang Bukan Karena Gengsi, Melainkan Karena Niat Tulus

Gus Baha menegaskan bahwa beliau bukan menolak semua undangan. Ada pengecualian: jika undangan datang dengan niat tulus, tanpa menonjolkan kepentingan pribadi atau kekuasaan, serta benar-benar ingin mendalami ilmu.iketahui, rumah Gus Baha yang menyatu dengan pesantren, tanpa pagar tinggi dan gerbang mewah, menjadi simbol kesederhanaan yang dijunjung tinggi. Di teras yang sederhana itulah puluhan ribu tamu dari rakyat biasa hingga pimpinan negara datang, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk merendahkan diri di hadapan ilmu dan kearifan. (Mar_yono)