Tahlilan 40 Hari Keponakan Gubernur Kofifah: Digelar Khusus di Wonocolo, Dihadiri Warga Dan Tokoh Ulama

Beritaloka.com – Acara tahlilan dan doa bersama memperingati 40 hari wafatnya Almarhumah Hj Fentin Istifaiyah digelar dengan penuh kekhusyukan, Senin malam (5/10/2026), di kediaman keluarga, Jalan Wonocolo, Gang Modin, Surabaya. Upacara ini menjadi momen berkumpulnya keluarga besar, kerabat, tokoh masyarakat, hingga ulama untuk mendoakan keberkahan dan amal jariyah bagi almarhumah yang dikenal luas sebagai sosok pengabdi umat.
Acara peringatan 40 hari ini mengikuti pelaksanaan doa peringatan 7 hari yang sebelumnya digelar secara khusus di kediaman Gubernur Jawa Timur, Hj. Khofifah Indar Parawansa.
Diketahui, Almarhumah Hj Fentin Istifaiyah adalah keponakan dari Gubernur Jawa Timur, sehingga kepergiannya turut mendatangkan duka mendalam bagi keluarga besar pimpinan daerah sekaligus kerabat luas di lingkungan masyarakat.
Sepanjang Hidup Mengabdi, Pernah Memimpin Sebagai Kepala Asrama Haji Surabaya
Selama masa hidupnya, almarhumah dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam pelayanan kepada umat. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Asrama Haji Surabaya, tempat di mana ribuan calon jemaah haji dari berbagai daerah bermukim sementara sebelum berangkat menuju Tanah Suci. Dalam posisi tersebut, Hj Fentin Istifaiyah dikenal memimpin dengan penuh ketulusan, keramahan, dan tanggung jawab yang besar.
Banyak jemaah yang masih mengingat kehadirannya yang selalu menyapa, menenangkan hati para calon jemaah, dan memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi dengan baik. Ia memandang tugas tersebut bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah dan ibadah langsung kepada tamu-tamu Allah. Jejak pengabdian inilah yang membuat namanya dihormati dan dirindukan banyak orang, bahkan setelah ia tiada.
Meninggalkan Suami, Tiga Anak dan Ibu Tercinta
Dalam kesedihan yang mendalam, almarhumah meninggalkan keluarga yang dicintainya: suami tercinta, H. Abdul Aziz Haqiqi, serta tiga orang anak yang masih menjadi kebanggaan dan harapan keluarga. Turut berduka sekaligus hadir memimpin penyambutan tamu adalah ibunda almarhumah, Hj. Aisyah, yang tampak tegar meski ditinggalkan putri kesayangannya.
Kehadiran banyaknya undangan yang memenuhi halaman dan ruang kediaman di Wonocolo menjadi bukti betapa luasnya jalinan kasih dan silaturahmi yang dibangun almarhumah semasa hidup. Para tamu hadir tak hanya dari kalangan kerabat dekat, melainkan juga mantan rekan kerja, jemaah yang pernah dilayaninya, serta masyarakat umum — menandakan betapa almarhumah dikenal sebagai sosok yang ramah, santun, dan penuh kebaikan.
Kehadiran KH. Muchid Murtadho Menambah Kekhusyukan Doa
Salah satu momen yang paling ditunggu dan memberikan keistimewaan tersendiri dalam acara ini adalah kehadiran tokoh ulama besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Muchid Murtadho. Kehadiran beliau langsung mengangkat suasana acara menjadi lebih khidmat dan penuh berkah, diiringi doa-doa yang mengalir tulus dari lisan para hadirin.
KH. Muchid Murtadho menyampaikan pesan tentang keagungan doa orang yang masih hidup untuk mereka yang telah mendahului, serta keutamaan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan. “Kehilangan orang yang dicintai adalah ujian keimanan, sekaligus jalan untuk merenungkan kembali tujuan hidup dan kepercayaan sepenuhnya kepada Allah SWT,” ujar ulama sepuh NU.
Silaturahmi Tetap Terjaga Meski Berduka
Keluarga besar almarhumah, yang diwakili oleh suami almarhumah H. Abdul Aziz Haqiqi, menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh hadirin. “Kehadiran Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian menjadi penyejuk hati kami sekeluarga. Terima kasih atas doa, dukungan, dan kehadiran yang meringankan beban kesedihan kami,” ucapnya dengan suara bergetar namun tegar.
Sementara itu, suasana di kediaman Wonocolo, Gang Modin, berlangsung dengan tertib, damai, dan penuh kehangatan. Para tamu datang bergantian, bersalaman dengan keluarga, menyampaikan belasungkawa tulus, dan ikut berdoa sejenak sebelum meninggalkan tempat acara.
Makna 40 Hari: Doa Sebagai Penghibur Hati
Dalam tradisi masyarakat muslim di Indonesia, khususnya di lingkungan masyarakat Jawa Timur, peringatan 40 hari kepergian seseorang memiliki makna yang mendalam.
Selain bentuk kepatuhan ajaran agama, acara ini menjadi wadah pertemuan warga, penguatan ikatan persaudaraan, sekaligus sarana mendoakan agar segala amal ibadah almarhumah diterima, segala khilafnya diampuni, dan ditempatkan di surga-Nya yang paling indah.
Hingga acara berakhir, suasana tetap tenang dan khidmat. Keluarga berharap doa yang dipanjatkan malam itu menjadi cahaya yang menerangi perjalanan Almarhumah Hj Fentin Istifaiyah mantan Kepala Asrama Haji Surabaya, menuju keabadian di sisi Tuhan Yang Maha Esa. (Fr.Rohman)







