Puncak Peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Dankodiklatal Hadir Langsung

Puncak acara ini dihadiri langsung, Komandan Kodiklatal (Dankodiklatal), Letjen TNI Marinir Nur Alamsyah Dan dimeriahkan Dewa 19 feat Virza

Beritaloka.com – Peringatan Hari Batik Nasional 2026 mencapai puncaknya dengan perayaan megah dan penuh makna bertema “Batik Berlayar”, Jumat, 2 Oktober 2026, di sepanjang Sungai Kalimas, Surabaya. Acara ini menjadi bukti nyata kekayaan budaya sekaligus semangat kemaritiman bangsa yang menyatu dalam satu perayaan .

Kegiatan yang berpusat di Dermaga Kapal Taman Prestasi hingga kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) ini dihadiri sejumlah tokoh penting negara dan tokoh masyarakat, di antaranya:

  • Letjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, Komandan Kodiklatal (Dankodiklatal)
  • Ny. Fera Muhammad Ali, Ketua Umum Jalasenastri
  • Arumi Bachsin, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur
  • Gita Gilangkencana, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia (YBI)
  • Laksda TNI Bayu Alisyahbana, Asisten Pengawasan dan Pengendalian Puspenerbal (Danpuspennerbal)
  • Perwakilan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Dekranasda dari seluruh Indonesia
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turut hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sekaligus membuka secara resmi rangkaian acara yang memadukan seni, budaya, dan semangat kebersamaan

Parade 11 Perahu Hias Penuh Pesona Batik Jawa Timur

Sorotan utama acara berupa parade 11 perahu hias yang seluruhnya dihiasi dengan ornamen dan motif batik khas Jawa Timur, dengan penekanan khusus pada keindahan batik asal Kabupaten Tulungagung. Deretan perahu perlahan menyusuri Sungai Kalimas sejauh kurang lebih 1,2 kilometer, dari Taman Prestasi menuju Monkasel, memancarkan pesona warisan budaya di tengah ibu kota Jawa Timur.

“Kalau biasanya kita membawa batik ke sebuah gedung, ke ruang pamer, atau ke atas panggung, kali ini kami berpikir, mengapa tidak kita bawa batik keluar,” ungkap Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Gilangkencana, menjelaskan filosofi di balik konsep “Batik Berlayar” .

Pemilihan lokasi di Sungai Kalimas dan Monumen Kapal Selam bukan tanpa makna. Kalimas merupakan ikon bersejarah Kota Surabaya yang membentang hingga ke laut, sementara Monkasel merepresentasikan identitas Indonesia sebagai negara maritim. Perpaduan antara budaya batik dan semangat bahari ini menjadi simbol harapan agar batik Jawa Timur dan Indonesia semakin dikenal, dicintai, dan mampu “berlayar” menembus kancah internasional .

Kemeriahan Seni Budaya dan Musik

Rangkaian perayaan dimeriahkan dengan pemukulan Pungkalasa sebagai pembuka acara, dilanjutkan dengan pertunjukan seni budaya unggulan Jawa Timur — Tari Remo yang memancarkan keanggunan, serta Reog Ponorogo yang penuh kegagahan dan semangat. Kemeriahan semakin memuncak dengan penampilan musik dari grup legendaris Dewa 19, yang menyatukan suasana di tepian Kalimas dalam semangat cinta budaya dan kebanggaan berbangsa.

Sepanjang perjalanan perahu hias, para tamu undangan yang mengenakan busana batik juga disuguhkan pertunjukan musik, perkusi, tarian, serta permainan cahaya yang menghidupkan suasana sungai di malam perayaan .

Semangat Melestarikan Batik Sebagai Identitas Bangsa

Hari Batik Nasional sendiri diperingati setiap tanggal 2 Oktober, bertepatan dengan pengukuhan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada tahun 2009. Penetapan ini kemudian diperkuat melalui Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 2009 .

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki kekayaan batik yang tersebar di 38 kabupaten/kota, masing-masing dengan corak, warna, dan filosofi yang khas. “Semangat Batik Berlayar adalah semangat membawa kekayaan budaya kita menjangkau lebih banyak orang. Kita ingin batik Jawa Timur semakin dikenal, semakin dicintai, dan semakin luas pasarnya, sehingga para perajin juga merasakan manfaatnya,” ujarnya .

Kehadiran Dankodiklatal Letjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, Ketua Umum Jalasenastri Ny. Fera Muhammad Ali, serta jajaran pimpinan Dekranasda di seluruh Indonesia adalah salah satu bukti dukungan lintas sektor dari institusi pertahanan, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintah daerah untuk terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan batik sebagai jati diri bangsa di tengah arus zaman.

Komandan Kodiklatal (Dankodiklatal), Letjen TNI Marinir Nur Alamsyah bersama Istri (Ayu Sayuti)

Letjen TNI Marinir Nur Alamsyah, menegaskan dukungan institusi TNI, khususnya Kodiklatal, terhadap pelestarian warisan budaya nasional. Acara ini sekaligus menjadi bukti bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan identitas bangsa yang terus dijaga dan dikembangkan dengan cara-cara kreatif, termasuk melalui pawai di sungai ikonik Kota Surabaya ini. (Fatur)