Kisah Wahyu Indarto: Berawal Jadi ‘Driver’ Di Rutan Medaeng, Hingga Jadi Kalapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor,  Wahyu Indarto (Foto:Beritaloka)

Beritaloka.com – Wahyu Indarto, A.Md.IP., SH., MM., bertekad ingin membawa Lembaga Pemasyarakatan Khusus Kelas IIA Gunung Sindur Kabupaten Bogor, Jawa Barat mencapai predikat WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih Melayani).

Menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Kelas II A Gunung Sindur Bogor, sejak akhir tahun 2024 lalu, Wahyu Indarto yakin program pelayanan dan fasilitas yang dimiliki lapas serta etos kerja pegawai yang baik bisa mewujudkan zona WBBM.

” Dan di tahun ini kita berproses untuk wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM). Kita ditunjuk sebagai salah satu lapas di (Kanwil Kemenkumham) Jabar untuk berproses WBBM,” ucap Wahyu Indarto kepada Beritaloka.com.

Bagi Wahyu Indarto, menjalankan tugas sebagai Kepala Lapas (Kalapas) memiliki tanggung jawab yang besar. Bukan hanya dituntut mampu mengelola, mengawasi dan meningkatkan kinerja pegawai lapas namun juga harus menjaga dan memastikan warga binaan mendapatkan hak dan kewajibannya selama menjalani hukuman.

“Sebagai Kalapas tentunya kita harus bisa mengelola lapas bisa dalam keadaan aman, kondusif dan tertib. Pegawai harus bisa mengikuti kinerja di lapas, artinya tidak melakukan penyimpangan, bekerja sesuai tupoksinya,” ucap pria lulusan Poltekip Angkatan 34 ini.

Lapas khusus Kelas IIA Gunung Sindur Bogor memiliki Sarana Asimilasi dan Edukasi yang ditujukan untuk membina dan mengajarkan keterampilan warga binaan. Mulai dari keterampilan di bidang konveksi (menjahit, bordir dll), budidaya ikan, ternak unggas, perkebunan dan produk kesenian (batik ecoprint).

“Cuma (sarana) tidak sebesar di luar. Diperlukan hanya untuk agar warga binaan memiliki kegiatan dan pembekalan keterampilan,” ucapnya.

Sebelum menjabat Kalapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, ayah dua anak ini tercatat sejak di awal karirnya banyak bertugas di Jawa timur. Dimulai dari Rutan Kelas I Surabaya (2003-2013), Rutan Kelas IIB Bangil Pasuruan (2019), Lapas Pasuruan (2020), Lapas Kelas IIA Banyuwangi (2021-2023).

Catatan Karir Wahyu Indarto

Pria lulusan Poltekip (AKIP) tahun 2001 ini mengawali karir ilmu pemasyarakatan di Lapas Cipinang, menjalani magang selama 1 tahun 8 bulan. Setelah hampir dua tahun menjalani magang, Wahyu Indarto akhirnya mendapatkan SK Penempatan untuk bertugas di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya (Medaeng).

Di Rutan Kelas I Surabaya ini, Wahyu menjalani karir dan pengalaman tugas selama 10 tahun (2003-2013). Mulai dari staf hingga eselon 5.

Awal menerima SK Penempatan di Rutan Kelas I Surabaya, Wahyu mengaku jika dirinya bertugas sebagai staf menjadi driver (supir). “Namanya junior ditempatkan di Kota Besar, ya super sibuk. Jadi driver antar jemput tamu sama driver Karutan (kepala rutan),” kenangnya.

Meskipun hanya sebagai driver, Wahyu Indarto mengaku tetap menikmati tugas yang dijalani. Dengan menjadi driver, ia menganggap itu telah mendapatkan kepercayaan dari pimpinan.

“Artinya apa, bahwa pimpinan mempercayakan kita untuk meng-handle tamu, mengantar Karutan (Kepala Rutan). Kepercayaan itu betul-betul saya jaga, jangan sampai pimpinan tidak percaya lagi. Meskipun hanya sebagai driver,” ceritanya.

Pada tahun 2009, Wahyu Indarto diangkat dan dipercaya menjabat sebagai Kasubsi Registrasi hingga tahun 2013

Menjabat sebagai Kalapas ataupun kepala Rutan, Wahyu mengaku jika ia harus sabar, mawas diri dan banyak berdoa. Pasalnya warga binaan yang ada di Lapas atau Rutan sedang menjalani konsekuensi catatan kriminal. (@d_ie)