Dr. KH. Masykur Hasyim: Jejak Panjang Pengabdian Ulama Penjaga Persatuan Jawa Timur

Almaghfurlah: Dr.KH Masykur Hasyim (foto; Ist)

Beritaloka.com – Di peta perjuangan bangsa, nama Dr. KH. Masykur Hasyim terukir bukan sekadar sebagai tokoh, melainkan sebagai tiang penyangga persatuan. Sepanjang hidupnya, beliau menempuh jalan yang menyatukan ilmu, pengabdian, dan kepemimpinan hingga napas terakhirnya.

Awal Perjalanan: Ilmu Sebagai Bekal Hidup

Lahir dari lingkungan yang menjunjung tinggi nilai agama, Masykur Hasyim tumbuh dengan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Beliau menempuh pendidikan dengan tekun, tidak hanya mendalami ilmu syariat di pesantren, tetapi juga menembus pendidikan akademik hingga meraih gelar Doktor. Langkah ini menunjukkan pandangannya yang luas: agama dan kemajuan bukan dua hal yang harus dipisahkan, melainkan berjalan beriringan.

Dengan dasar ilmu yang kokoh, beliau mulai tampil di tengah masyarakat, bukan untuk mencari kedudukan, melainkan untuk mengisi kekosongan kepedulian, membimbing umat, dan menanamkan semangat kebersamaan.

Memimpin dengan Hati: Tangan Dingin di PPP Jawa Timur

Ketika suasana politik nasional sedang diwarnai perpecahan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun tak luput dari ujian. Di saat banyak wilayah terbelah, Jawa Timur justru berdiri tegak. Itu adalah buah kebijaksanaan Dr. KH. Masykur Hasyim selaku Ketua DPW PPP Jawa Timur.

Beliau hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pendamai. Saat perbedaan pandangan memisahkan kubu-kubu di tingkat pusat, beliau turun ke bawah, mendengar semua pihak, dan mengajak kembali ke niat awal: mengabdi kepada rakyat, bukan kepada kepentingan pribadi.

Hasilnya nyata, PPP Jawa Timur pernah menjadi salah satu basis terkuat dan paling guyub di seluruh Indonesia. Kader-kader tetap bersatu, kepercayaan masyarakat terjaga, dan partai terus melangkah menjadi wadah aspirasi yang inklusif. Prestasi ini bukan sekadar soal kemenangan politik, melainkan kemenangan budaya: kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Sosok Teladan di Tengah Keluarga dan Bangsa

Sebelah kiri, Lia Istifhama dan sebelah kanan (almaghfurlah) KH Masykur Hasyim (foto ; ist)

Pengaruh dan keteladanan beliau tak berhenti di organisasi. Di lingkungan keluarga, beliau menjadi panutan. Sebagai kerabat sekaligus pembimbing bagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, beliau senantiasa mengingatkan agar pengabdian tetap menjadi arah utama. Putri beliau, Lia Istifhama, yang kini menjadi Anggota DPD RI, tumbuh menyerap semangat itu — bahwa jabatannya adalah peluang untuk berbuat baik, bukan kebanggaan diri.

Banyak orang yang mengenal beliau menyebutnya sebagai pemimpin yang mudah dijumpai, mendengarkan dengan sabar, dan bicara dengan ketenangan yang menenangkan. Beliau tidak gemar pujian, namun justru karena itulah pujian datang dari banyak orang  tulus dan tanpa paksaan.

Mengabdi Hingga Ujung Waktu

Selama bertahun-tahun, kesehatan sempat menurun, namun semangatnya tak pernah surut. Beliau tetap menerima tamu, memberi nasihat, memimpin rapat, dan merangkul kader, selama tenaga masih dipunya. Bahkan di masa-masa terakhir, pesan yang beliau sampaikan tetap sama: jaga persatuan, jangan tinggalkan kepedulian pada sesama, dan tetaplah menjadi ulama yang bermanfaat.

Perjalanan panjang pengabdian Dr. KH. Masykur Hasyim pun berakhir dengan tenang. Beliau berpulang bukan sebagai orang yang lelah berjuang, melainkan sebagai orang yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga dari sekadar nama: semangat persatuan, keteladanan, dan cinta kepada rakyat.

Kini, nama dan ajarannya tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan oleh keluarga, kader, dan semua orang yang percaya bahwa kebaikan dan kebersamaan selalu akan menang. (Fr.Rohman)