Ratusan Mahasiswa BEM SI ‘Kepung’ Grahadi

Massa aksi dari BEM SI Jatim menggelar aksi simbolik di depan Gedung Negara Grahadi. (Foto:ist)

Beritaloka.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan Jawa Timur menggelar aksi bertajuk “Agustus Kelam, Jatim Melawan” di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Senin (31/8/2026) sore.

Massa aksi mulai memadati kawasan Grahadi sekitar pukul 14.55 WIB, meski agenda sebenarnya dijadwalkan pukul 14.00 WIB. Peserta datang dari sedikitnya 10 perguruan tinggi di Jawa Timur, dengan proyeksi massa mencapai 305 orang, di antaranya Universitas Airlangga, Universitas Hang Tuah, Telkom University, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, dan Universitas Negeri Malang.

Pantauan Beritaloka.com, di lapangan mencatat sekitar 200 mahasiswa turut serta, duduk melingkar di badan jalan dengan mengenakan pakaian serba hitam dan pita kuning di lengan sebagai identitas aksi.

Selama berlangsungnya demonstrasi, mahasiswa menggelar orasi secara bergantian, teatrikal, serta menuliskan pesan kritik menggunakan kapur di badan jalan. Sejumlah poster dan spanduk turut dibentangkan.

Pihak keamanan memasang pagar kawat berduri di depan kompleks gedung untuk membatasi massa, sementara Jalan Gubernur Suryo ditutup sementara sehingga berdampak pada arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Ketua BEM Universitas Airlangga, M. Rizqi Senja, menegaskan aksi ini tidak dimaksudkan sebagai pengerahan massa berskala besar, melainkan sebagai ruang refleksi atas kondisi bangsa. khususnya menyangkut penanganan bencana di berbagai daerah.

“Untuk tuntutan kami itu sebetulnya ada 16. Cuma kalau tuntutan utamanya adalah hentikan program Makan Bergizi Gratis sama Koperasi Desa Merah Putih,” ujar Presiden BEM Universitas Airlangga M Rizqi Senja.

Mahasiswa mendesak pemerintah memprioritaskan anggaran negara untuk penanganan bencana, sekaligus menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset.

Selain persoalan penanganan bencana, mahasiswa juga menyoroti pembahasan RUU Perampasan Aset. Mereka menilai rancangan regulasi tersebut belum menjadi prioritas DPR dan pemerintah.

Rizqi mengatakan, DPR sebelumnya telah menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan RUU Perampasan Aset sebelum atau pada Desember 2026.

“Cuma pada akhirnya belum benar-benar dapat menjadi prioritas sebetulnya. Kemarin sudah disampaikan bahwa sebelum Desember sudah selesai. Makanya di situ kita menyuarakan untuk merefleksikan kondisi hari ini, cuman itu akan tetap menjadi concern kami juga,” jelasnya.

Rizqi menyebut aksi di depan Grahadi hari ini bukan menjadi aksi terakhir. Mahasiswa masih akan melakukan konsolidasi untuk menentukan rangkaian aksi berikutnya.

Tajuk “Agustus Kelam” sendiri merujuk pada peringatan setahun peristiwa serupa tahun sebelumnya. Ketika itu, gelombang aksi mahasiswa dan diwarnai tindakan represif yang dinilai belum tuntas ditanggapi pemerintah.

Aksi simbolik kali ini disebut sebagai pembuka dari rangkaian demonstrasi lanjutan yang direncanakan berlangsung pada bulan September mendatang. (Sakur)