
Beritaloka.com – Setiap bulan Agustus, jalanan kampung di Jawa Timur memiliki wajah yang berbeda. Gang-gang kecil yang biasanya sepi berubah menjadi pusat keramaian. Anak-anak memakai kostum unik, warga menghias kendaraan, dan suara musik mulai terdengar dari kejauhan. Dalam beberapa tahun terakhir, satu fenomena hampir selalu menjadi bagian dari kemeriahan tersebut: sound
Truk besar dengan susunan speaker menjulang, lampu warna-warni, dan dentuman bass yang kuat menjadi simbol baru dalam perayaan masyarakat. Bagi banyak warga, kehadiran sound horeg dalam karnaval bukan hanya hiburan, tetapi menjadi bagian dari kebanggaan sebuah kampung.
Namun kini muncul fenomena menarik. Di tengah popularitas sound horeg yang masih kuat, sebagian masyarakat mulai menghadirkan kembali konsep hiburan yang lebih lama: orkes simpatik. Perlahan, hiburan panggung dengan penyanyi dan musik langsung mulai menjadi pilihan baru dalam acara kampung.
Perubahan ini terlihat di sejumlah wilayah masyarakat Jawa Timur, seperti daerah Jombang, Kediri dan termasuk yang paling heboh di kabupaten Malang. Jika sebelumnya karnaval Agustusan menjadi ajang menunjukkan siapa yang memiliki sound paling besar, kini sebagian masyarakat mulai mengubah konsep acara dengan menghadirkan orkes yang dianggap lebih mampu menghidupkan suasana.
Fenomena ini bukan berarti sound horeg kehilangan penggemar. Justru sound horeg telah menjadi bagian dari perkembangan budaya hiburan masyarakat. Kemunculannya membawa warna baru dalam acara rakyat karena menawarkan sesuatu yang sebelumnya jarang ditemukan: perpaduan teknologi, kreativitas, dan pertunjukan jalanan.
Daya tarik sound horeg sangat kuat. Ketika kendaraan dengan speaker besar melewati jalan kampung, perhatian warga langsung tertuju. Anak-anak mengikuti dari belakang, masyarakat keluar rumah, dan suasana menjadi seperti festival kecil.
Bagi sebagian orang, suara keras bukan sekadar suara. Ia menjadi simbol kemeriahan.
Semakin besar perangkat yang digunakan, semakin besar pula kesan bahwa sebuah acara dibuat secara serius. Ada unsur gengsi dan kebanggaan ketika sebuah kelompok mampu menghadirkan sound yang lebih besar dibanding acara lain.
Tetapi budaya hiburan selalu mengalami perubahan. Setelah beberapa tahun masyarakat menikmati fenomena sound horeg, muncul pertanyaan baru: apakah hiburan hanya dinilai dari seberapa keras suaranya?
Pertanyaan inilah yang membuat orkes simpatik kembali mendapatkan perhatian.
Orkes memiliki kekuatan yang berbeda. Jika sound horeg lebih mengandalkan teknologi dan efek suara, orkes mengandalkan manusia sebagai pusat pertunjukan.
Penyanyi yang berinteraksi dengan penonton, pemain musik yang membangun suasana, hingga warga yang ikut bernyanyi dan berjoget membuat acara terasa lebih dekat. Hiburan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi ruang kebersamaan.
Bagi masyarakat kampung, aspek kebersamaan memiliki nilai penting. Sebuah acara tidak hanya bertujuan membuat orang kagum, tetapi juga mempertemukan warga yang sehari-hari sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Karena itu, ketika orkes simpatik mulai kembali dipilih, bukan berarti masyarakat menolak hiburan modern. Justru masyarakat sedang mencari keseimbangan antara kemeriahan dan kedekatan.
Sound horeg menghadirkan pengalaman melihat sesuatu yang besar. Sementara orkes menghadirkan pengalaman menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Pergeseran ini menunjukkan perubahan cara masyarakat menikmati hiburan. Dulu ukuran kemeriahan mungkin dilihat dari jumlah speaker dan kekuatan bass. Kini sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan bagaimana sebuah acara mampu membuat semua orang menikmati suasana.
Fenomena sound horeg dan kebangkitan orkes simpatik akhirnya bukan hanya tentang musik. Ini adalah cerita tentang perubahan budaya masyarakat Jawa Timur dalam merayakan momen bersama.
Dari jalanan kampung yang dipenuhi dentuman suara besar, kini sebagian masyarakat mulai kembali mencari hiburan yang menghadirkan interaksi, tawa, dan kebersamaan.
Sebab dalam sebuah perayaan rakyat, suara yang paling keras belum tentu menjadi suara yang paling diingat. Terkadang, yang paling membekas justru adalah momen ketika masyarakat bisa berkumpul dan menikmati acara bersama.(@om_mbes)




