
Beritaloka.com – Hj. Fentin Istifa’iyah, S.Ag., M.Si., Kepala Asrama Haji Embarkasi Surabaya (Sukolilo), berpulang ke Rahmatullah pada hari, Sabtu (29/8/2026). Kepergian Fentin meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi mereka yang mengenal kiprah dan dedikasinya dalam pelayanan jamaah haji.
Sosok Hj. Fentin pernah diulas secara khusus oleh Media AULA NISA melalui tulisan berjudul “Perempuan Pertama yang Menata Rumah Singgah Tamu Allah”. Tulisan tersebut merekam perjalanan Fentin ketika dipercaya menjadi Kepala Asrama Haji Kelas I Surabaya pada Januari 2026.

Bagi banyak orang, jabatan tersebut merupakan sebuah posisi strategis. Namun bagi Fentin, amanah itu adalah tanggung jawab besar untuk memastikan para tamu Allah mendapatkan pelayanan terbaik sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.
Puluhan Ribu Jamaah Menjadi Amanah
Fentin bukan sosok baru di lingkungan Asrama Haji Surabaya. Sejak menunaikan ibadah haji pada 2001, ia telah mengenal lingkungan tersebut. Bahkan sejak menjadi pegawai Kementerian Agama pada 2005, ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai pelatihan hingga penyelenggaraan haji dan umrah.
Sebelum dipercaya sebagai kepala asrama, Fentin menjabat Ketua Tim Akomodasi, Transportasi dan Perlengkapan Haji Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur. Ia juga pernah dipercaya sebagai Sekretaris Sektor 10 Makkah pada 2024.
Saat mulai memimpin Asrama Haji Surabaya, Fentin memilih membangun kerja kolektif. Baginya, keberhasilan pelayanan jamaah tidak mungkin hanya bertumpu pada pimpinan.
Ia kemudian melakukan pembenahan internal sekaligus memetakan kondisi fasilitas asrama.
Dari total 587 kamar yang tersedia, lebih dari seratus kamar saat itu membutuhkan perbaikan, mulai dari kerusakan ringan hingga berat. Sebagian bangunan bahkan telah berusia 40 hingga 60 tahun.
Bagi Fentin, melayani jamaah haji bukan sekadar persoalan administratif. Asrama Haji merupakan tempat persinggahan orang-orang yang sedang menjalani perjalanan spiritual yang bagi sebagian jamaah mungkin hanya dilakukan sekali seumur hidup.
Karena itu, ia ingin Asrama Haji Surabaya tidak hanya layak secara fasilitas, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman, bersih dan indah bagi para tamu Allah.
Sejumlah gagasan pun disiapkan, mulai dari penataan kawasan manasik, perluasan area thawaf, pembenahan tampilan depan hingga penyesuaian warna bangunan. Semua dilakukan secara bertahap.
Cita-citanya bahkan lebih jauh. Fentin ingin Asrama Haji tidak hanya hidup ketika musim haji tiba, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, wisata religi, tempat bernostalgia sekaligus ruang yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia juga berupaya menghidupkan kembali fungsi spiritual masjid di lingkungan asrama melalui pengajian, bimbingan dan berbagai kegiatan keagamaan.
Fentin dikenal memiliki perjalanan panjang di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama. Ia pernah aktif di sejumlah organisasi seperti PMII, Fatayat NU hingga Muslimat NU.
Lulusan Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut memilih menjalani kepemimpinan dengan prinsip sederhana: bekerja sungguh-sungguh dan melayani sepenuh hati.
Kini, sosok yang pernah bertekad menjawab keraguan dengan karya itu telah berpulang. Fentin meninggalkan jejak pengabdian di Asrama Haji Embarkasi Surabaya serta kenangan mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
Selamat jalan, Hj. Fentin Istifa’iyah. Semoga seluruh pengabdian dan kebaikannya menjadi amal jariyah, dan Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik, Aamiin. (Fatur)





