Festival Arwah Lapar: Momen Warga Bebas Berebut Makanan Gratis

Masyarakat sekitar kuil bersuka cita berebut makanan yang di hidangkan setelah usai sembahyang menurut kepercayaan Tao dan Budha (foto: ist)

Beritaloka.com – Festival Arwah Lapar (Hungry Ghost Festival) atau yang dikenal sebagai Zhongyuan Jie merupakan salah satu tradisi yang berkaitan dengan bulan ketujuh dalam kalender lunar Tionghoa. Pada 2026,  Bulan hantu (Ghost Month) berlangsung mulai 13 Agustus hingga 10 September, sedangkan puncak Hungry Ghost Festival jatuh pada 27 Agustus 2026, yaitu hari ke-15 bulan ketujuh.

Tradisi ini tidak hanya ditemukan di satu negara, tetapi juga dirayakan dalam berbagai bentuk oleh komunitas Tionghoa di Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, hingga wilayah lainnya. Perayaannya dapat berupa pemberian makanan, pembakaran dupa dan kertas persembahan, ritual di kuil, pertunjukan tradisional, hingga acara komunitas.

Menurut kepercayaan Tao dan Buddha, bulan ketujuh menjadi waktu ketika roh-roh dipercaya kembali ke dunia manusia. Oleh karena itu, berbagai ritual dilakukan untuk menghormati leluhur sekaligus menenangkan roh-roh yang dipercaya tidak memiliki keluarga untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

Sebelum mengetahui berbagai tradisinya, yuk, pahami bagaimana Hungry Ghost Festival berkembang dan mengapa bulan ini memiliki makna khusus bagi masyarakat Tionghoa,

Di Indonesia, praktiknya dapat berbeda antara daerah, komunitas dan tempat ibadah.

Aneka makanan dan minuman boleh dibawa pulang warga masyarakat, bahkan ada yang memasukan makanan sebanyak mungkin, (foto:ist)

Salah satu cirinya adalah pemberian persembahan makanan kepada arwah, kemudian makanan tersebut dapat dibagikan kepada masyarakat.

Istilah “sembahyang rebutan” berkaitan dengan tradisi pembagian atau perebutan makanan persembahan setelah ritual selesai. Tradisi tersebut memiliki dimensi sosial karena makanan yang telah dipersembahkan kemudian dinikmati masyarakat.

Dengan demikian, Festival Arwah di Indonesia tidak tepat dipahami semata-mata sebagai tradisi “memanggil arwah”.

Perjalanan Festival Arwah menunjukkan bagaimana tradisi masyarakat dapat bertahan selama berabad-abad dengan bentuk yang terus berkembang.

Di satu sisi terdapat ritual keagamaan dan penghormatan kepada leluhur.

Di sisi lain, muncul kegiatan sosial dan budaya seperti pembagian makanan serta pertunjukan.

Di Indonesia, tradisi tersebut kemudian beradaptasi dengan karakter masyarakat setempat. Nama, bentuk ritual dan kegiatan pendukungnya dapat berbeda antara komunitas. (@om_mbes/bbs)