Fenomena Ngopi atau ‘Nunut’ Wifi jadi Budaya Metropolis

Para pelanggan Warkop STK, bisa ngopi atau ngeteh sambil ‘nunut’ Wifi (foto: ombes)

Beritaloka.com- Keberadaan Warkop ‘Sedulur Tunggal Kopi’ (STK) sangat cocok sebagai ‘ penghibur’ bagi kaum-kaum yang gajinya habis satu hari setelah gajian. Dengan cat khas warna kuning, hitam, dan merah, STK menawarkan banyak hal, tak hanya perkara ngopi, yang bisa dibeli dengan uang yang tak terlampau banyak.

Saat ini, cangkrukan di warkop sudah menjadi budaya bagi sebagian masyarakat metropolis. Di situlah warkop STK menjadi pionir. Menyediakan lahan parkir yang luas, tempat duduk banyak, wifi stabil, cemilan macam-macam, makanan berat pun ada, serta fasilitas yang memadai dan inovasinya yang kreatif.

Dari matahari muncul malu-malu hingga malam terkantuk-kantuk, selalu ada yang singgah di warkop STK. Banyak alasan kenapa selalu ada yang singgah, tapi karena warkop STK memang egaliter. Di sana, tidak ada pembagian kasta, apalagi outfit. Semua diterima dengan tangan terbuka.

Mulai dari mahasiswa yang sedang akrab dengan laptopnya. Lalu, para driver ojol mengistirahatkan diri dari tumpukan orderan atau biasanya juga ada gathering rutinan komunitas ojol. Ada juga pegawai yang baru pulang kantor mampir sejenak, sebelum bertemu keluarga kecilnya. Tentu saja, ada anak-anak muda yang sibuk bermain Mobile Legends. Terakhir, sering saya temui para pengamen dengan suaranya yang merdu, mengalun di atap galvalum warkop STK.

Mereka semua tentu berangkat dari latar belakang yang berbeda, tapi bisa duduk di bangku yang sama. Semua obrolan tertuang di atas meja kayu berwarna kuning beserta asbak dan stop kontak, mengalir tanpa henti. Kadang ada tawa yang tampil, ada juga kesedihan tergambar. Begitulah warkop STK, ada ratusan manusia yang memilih memesan kopi pahit, teh manis, ataupun minuman sachetan kesayangannya untuk sekadar merebahkan pikiran di sini.

Meski coffee shop silih berganti muncul di Surabaya, warkop STK  akan sulit tergantikan. Bahkan ini bisa kita lihat, dua kafe kopi kekinian yang dulu rame banget sekarang berubah menjadi warkop STK. Itu bukan sekadar peralihan lahan, tapi juga sinyal bahwa masyarakat dalam kenyataannya tidak setiap hari mengejar estetika. Sedangkan pebisnis setiap waktu dibayangi cash flow.

Di warkop STK, kita tidak akan merasa dihakimi kalau cuma pesen es teh saja. Begitupun kalo kita duduk berlama-lama, juga tidak akan diusir secara halus. Datang berpakaian biasa saja, tidak menjadi soal karena tidak ada polisi skena di sana. Kita tidak perlu membuktikan apa-apa saat singgah, bahkan kita diperbolehkan membawa makanan dari luar dan disediakan sendok dan garpu.

Di kota yang semakin sibuk dengan realitasnya, mungkin yang dicari warga Surabaya bukan lagi tempat yang memenuhi validasi semata. Mereka hanya membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa boleh berhenti sejenak. Bertukar obrolan, memberi jeda pada hidup. (@om_mbes)