Dibalik Ricuh Muktamar NU Ke-35 : Massa Pro Gus Yusuf Masih Bertahan Di Depan Gedung Hasbullah

Tim keamanan Muktamar selalu siaga, dalam kondisi pemilihan ketua umum masih alot hingga hari Minggu (30/8/2026)

Beritaloka.com – Massa pendukung Gus Yusuf Chudlori masih bertahan di depan Gedung Serbaguna (GSG) Hasbullah Said Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang, Minggu (30/8/2026).

Hingga pukul 14.30 WIB, massa tetap berada di lokasi sambil menyampaikan tuntutan terkait proses Muktamar PBNU. Aksi tersebut diwarnai lantunan selawat yang terus berkumandang meski cuaca panas menyengat.

Belum ada perwakilan massa yang diperbolehkan masuk ke dalam gedung yang digunakan sebagai lokasi rapat pleno Muktamar NU. Massa masih berada di luar area gedung dan dihadang oleh petugas keamanan yang terdiri dari Banser, Pagar Nusa, serta tim keamanan pondok bernama Sigap.

Situasi sempat memanas ketika terjadi aksi saling dorong antara massa dan petugas keamanan saat sejumlah peserta aksi mencoba masuk ke area gedung. Meski demikian, massa tetap melanjutkan aksinya dengan melantunkan selawat serta menyampaikan orasi secara bergantian untuk menyuarakan tuntutan mereka.

Koordinator aksi, Fathoni, mengatakan pihaknya menilai terdapat indikasi penggunaan aturan organisasi, khususnya Peraturan Perkumpulan (Perkum), yang dinilai berpotensi membatasi peluang sejumlah kader NU untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

“Bisa kita lihat hari ini, dengan mata telanjang bahwa panitia memainkan peran mengatur sidang sedemikian rupa untuk kepentingannya sendiri dan memanfaatkan kyai sepuh untuk kepentingan sendiri,” kata Fathoni.

Fathoni juga menyoroti pembahasan mengenai ketentuan persyaratan calon ketua umum yang tertuang dalam Perkum. Ia menilai aturan mengenai masa idah politik selama satu tahun dan sanksi organisasi berpotensi mengeliminasi sejumlah kader yang dianggap memiliki kapasitas untuk memimpin PBNU.

“Pengesahan penggunaan peraturan perkumpulan yang memuat syarat ketua umum dimainkan sedemikian rupa. Ketentuan masa idah politik 1 tahun dan sanksi organisasi dibahas kembali sehingga mengeliminir beberapa kader-kader terbaik menjadi calon ketua umum PBNU. Baik itu Gus Yusuf Chudhori maupun Gus Salam Shohib,” Lanjutnya.

Dalam aksinya, Nahdliyin Muda menyampaikan tujuh tuntutan terkait pelaksanaan Muktamar PBNU. Salah satu tuntutan tersebut adalah penolakan terhadap penggunaan Perkum sebagai alat untuk menghalangi pencalonan Gus Yusuf dan Gus Salam Shohib secara sepihak serta diskriminatif.

Mereka menegaskan bahwa Perkum seharusnya menjadi instrumen penataan organisasi, bukan menjadi alat politik untuk menyingkirkan kandidat tertentu dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Selain itu, massa meminta panitia dan jajaran PBNU menerapkan aturan secara adil, terbuka, konsisten, serta tidak berlaku surut. Mereka juga mendesak adanya penjelasan resmi dan ruang klarifikasi yang setara bagi Gus Yusuf sebelum keputusan mengenai kelayakan pencalonannya ditetapkan.

Para pemuda Nahdliyin juga mengingatkan bahwa kedaulatan tertinggi organisasi berada di tangan muktamirin. Hak PWNU, PCNU, dan PCI NU dalam menentukan calon terbaik, menurut mereka, tidak boleh dibatasi melalui proses administratif yang dinilai tidak adil.

Aksi tersebut ditutup dengan seruan agar seluruh Nahdliyin, khususnya generasi muda NU, mengawal Muktamar secara kritis, damai, dan konstitusional. Mereka berharap proses pemilihan Ketua Umum PBNU berjalan secara jujur dan bermartabat demi menjaga marwah jam’iyah. (@par_jan)