
Beritaloka.com – Suatu ketika, melintasi pasar Porong malam hari ramai poll, tempat sayur-mayur masih ramai, tujuanku ‘hanya’ sekedar jalan – jalan melepas penat di siang dan sore tadi .
Namanya jalan-jalan malam, tak terasa terasa jam tanganku sudah menunjukan 9 malam. Saya sebenarnya agak ragu melintasi jalanan desa yang sepi, mau dilanjutkan atau tidak. Kanan kiri masih banyak lahan kosong, ilalang, sawah, tambang pasir, ada rumah, tapi jaraknya itu berjauhan. Ditambah angin malam semakin dingin.
Anggap saja nostalgia masa bujang, saya suka keluyuran. Lanjut arah pulang ke Sidoarjo kota. Menuju arah pulang ternyata, tidak bisa asal menyebrang begitu saja, harus mengikuti jalur yang sudah disediakan, melalui pertigaan Gempol-Pasuruan.
Melintasi Jalanan sebelah kali porong, seperti jalan kampung tidak terlalu lebar. Di sebelah kali Porong sengaja dibuat lebih tinggi semacam tanggul, jadi bisa lewat jalan atas atau bawahnya. Tapi setelah lewat jalan normal (lewat bawahnya), mulailah area itu penuh ‘suguhan’ pemandangan tidak pantas.
Area warung kopi remang-remang plus parkir seperti kos-kosan. Banyak warkop remang remang hanya pakai lilin sebagai penerang. germo berdiri di gerbang pintu, Lelaki hidung belang, perempuan kupu-kupu malam bertebaran disana.
Sebenarnya, di dekat kali Porong itu ada Polsek Porong. Ketika saya tanya kepada seorang berpeci putih yang juga warga setempat, dia malah balik bertanya. “Kok nggak diobrak, tempat mesum seperti ini tentu meresahkan para warga, berkumpulnya maksiat’ katanya.
Dikalangan masyarakat Porong ada yang bilang, jalan ke Timur menuju surga karena masih terdapat Kiai, pondok yang memegang syariat agama Islam, jalanan ke Barat itu neraka, tempat yang disebut TPI tadi.
Makanya sebagian masyarakat ada yang berpendapat; tidak heran Porong diberi bencana hebat. Lumpur Lapindo, kita semua mengetahui, kejadian tahun 2006 lalu gas minyak bocor kemana-kemana menenggelamkan ratusan rumah warga, sampai sekarang pun masih mengeluarkan lumpur bercampur gas, tanggulnya sudah seperti gunung. Bisa jadi itulah ” teguran” dari Tuhan atau dengan kata lain melaknat tempat yang digunakan mesum.
Sebagai orang Sidoarjo, bukannya ‘sok’ alim, saya malu ada tempat mesum yang bebas beroperasi. Pak Bupati ada sampah masyarakat harus dibersihkan, jangan melulu membersihkan PKL di alun-alun kota, sedangkan hakikatnya ada sampah yang harus dibersihkan.
Bahkan ketika saya mendengar berita tentang; lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian serius DPRD Sidoarjo. Hingga April 2026, jumlah kasus tercatat mencapai 7.129 orang. Sangatlah miris, kondisi ini dikarenakan pergaulan bebas dan masih terbukanya area Lokalisasi, meskipun sering diobrak oleh petugas terkait, nyatanya kawasan TPI masih beroperasi di malam hari.
Ada dua kecamatan, yakni Porong dan Krian, disebut sebagai wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Kondisi ini mengharuskan Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera melakukan langkah pencegahan dan penanganan yang lebih serius.(@ang_rahmat)





