Kisah Pasukan Gajah Yang Akan Menghancurkan Ka’Bah

Keberadaan Ka’ bah menjadikan kedengkian hati Raja Abrahah, hingga ingin dihancurkannya. Dan kejadian ini terjadi sebelum Rasulullah Muhammad SAW lahir.


Foto Ilustrasi: Pasukan Gajah Raja Abrahah

Hingga kini, Ka’bah sebagai Kiblat Umat Islam seluruh dunia

Beritaloka.com – Sejak sebelum Kanjeng Nabi Muhammad SAW lahir, Ka’bah sudah dianggap sebagai aset yang mendatangkan uang karena banyak peziarah yang beribadah di sana.

Oleh Kaum Quraish, Ka’bah dirawat dengan baik meskipun sarat dengan penyembahan berhala yang ditaruh di sekeliling Kakbah.

Melihat kesuksesan masyarakat Quraish dalam menghasilkan uang melalui Ka’bah, Abrahah membuat bangunan tandingan dengan tujuan yang sama: agar didatangi para peziarah.

Namun naas, oleh orang Quraish, Kakbah tiruan Abrahah dijadikan tempat buang air besar. Mengetahui hal tersebut, Abrahah marah. Dia bersumpah untuk merobohkan Ka’bah.

Untuk mewujudkan sumpahnya, Abrahah membuat pasukan gajah. Anehnya Gajah yang diarahkan ke Ka’bah tak mau berjalan.

Abrahah tak kehabisan akal. Dengan pasukan militernya, Abarahah mengambil semua aset berharga milik orang Quraish termasuk aset Abdul Muthalib (kakek nabi Muhammad SAW). Tujuan perampasan aset untuk negoisasi dengan orang Quraish. Memilih hartanya dikembalikan atau Kakbah dihancurkan.

Untuk itu seluruh pemilik aset dipanggil Abrahah untuk diajak bernegoisasi mengenai harta yang sudah dirampasnya.

Ketika tiba giliran Abdul Muthalib, ada yang ganjil dengan perlakukan Abrahah. Ia segan melihat Abdul Muthalib yang wajahnya memancarkan aura kewibawaan. Abrahah mengira Abdul Muthalib bukan orang sembarangan. Dia orang kaya yang dekat dengan Tuhan.

Oleh karenanya, Abrahah ingin Abdul Muthalib duduk di atas kursi di sampingnya bukan di bawahnya sebagaimana yang lain.

“Apa yang kamu inginkan setelah aset kuambil semua?” tanya Abrahah.

“Aku? Sikapku jelas. Aku mau unta-untaku dikembalikan.”

Raut muka Abrahah berubah. Orang yang disangkanya dekat dengan Tuhan ternyata lebih memilih harta dibandingkan tempat sesembahan.

“Loh? Kukira Anda ini orang yang mencintai Ka’bahmu. Dari wajahmu kulihat kamu ahli ibadah pada Tuhanmu. Ternyata aku keliru. Bukannya malah melindungi Ka’bah kok ya malah meminta hartamu!” Abrahah menghardik.

“Saudara Abrahah! Unta itu punyaku! Sedangkan Ka’bah sudah ada pemiliknya, dia milik Tuhan. Jadi pasti dilindungi Tuhan! Sedang harta itu punyaku. Dan penting untuk kehidupanku dan keluargaku. Jadi aku minta kembali hartaku. Biarkan saja Kakbah dilindungi pemiliknya.”

Abrahah pun memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan harta Abdul Muthalib. Setelah hartanya dikembalikan. Abdul Muthalib naik ke atas gunung dan berkata. “Gusti Pengeran, Saya ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang ingin merusak Ka’bahmu.”

Tak lama setelah Abdul Muthalib bermunajat, terjadilah peristiwa yang disampaikan dalam surat al-Fiil dimana pasukan Abrahah mendapatkan serangan dari ‘pasukan langit’ yang menghancurkan mereka.

Kisah tentang Abdul Muthalib, Abrahah dan pasukannya ini ada dalam kitab Jami’ al-Bayan an ta’wil al-Qur’an karya Imam Al-Thabari. (@Mann/jab)