Hartono Sang Pelukis Spanduk ‘Pecel Lele’ : Mencolok Itu Adalah Identitas Lamongan

Beritaloka.com – Membahas warung kaki lima pecel lele, bukan hanya tentang nasi, lalapan, sambal, dan ikan lelenya saja. Melainkan, hal yang begitu identik lainnya adalah spanduk bertuliskan pecel lele khas Lamongan, dengan berbagai gambar dan perpaduan warna yang cerah.

Salah satu sosok di balik pembuat spanduk pecel lele tersebut adalah Hartono (47) laki-laki asal Desa Ngayung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selama 14 tahun menekuni profesi tersebut, Hartono telah mendapatkan orderan dari seluruh kota besar di Indonesia. Maka tak heran, ia bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulannya.

Hal ini tidak terlepas dari bakat dan hobi melukisnya yang telah muncul sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Oleh karena itu, ketika Hartono memulai menjadi seorang penjual lele dan membutuhkan bantuan temannya untuk dibuatkan spanduk. Temannya kala itu menolak dengan dalih bahwa Hartono bisa melukis.

“Kala itu, saya butuh (spanduk pecel lele), ditolak. Alasannya, ya saya sendiri juga menurut dia bisa melukis, akhirnya dia enggak mau. Dia ngasih masukkan bikin sendiri aja,” kisah Hartono.

Walaupun hasilnya kurang memuaskan, setidaknya spanduk itu cukup untuk menjadi penutup dan penghias warung pecel lelenya. Ternyata hasil yang dianggapnya kurang itu justru dinilai berbeda oleh rekannya yang kemudian tertarik untuk meminta Hartono membuat spanduk warung makannya.

Setelah itu, pesanan melukis di spanduk terus datang. Namun, Hartono tetap berjualan pecel lele. Proses melukis ia lakukan saat waktu senggang. Hartono kala itu belum memantapkan dirinya menjadi pelukis spanduk pecel lele karena merasa belum memenuhi target yang diinginkannya.Hartono memasang target 700 pesanan spanduk pecel lele untuk bisa ia fokus menjadi pebisnis spanduk pecel lele. 14 tahun berlalu, akhirnya target itu tercapai. Suami dari Sriningsih itu memutuskan untuk ‘gantung wajan’ dan memilih fokus berjualan spanduk pecel lele.

Hartono memasang target 700 pesanan spanduk pecel lele untuk bisa ia fokus menjadi pebisnis spanduk pecel lele. 14 tahun berlalu, akhirnya target itu tercapai. Suami dari Sriningsih itu memutuskan untuk ‘gantung wajan’ dan memilih fokus berjualan spanduk pecel lele.

“Rata-rata spanduk bertahan satu sampai dua tahun, agar setiap hari bikin setidaknya saya harus punya 700 pelanggan. Ketika dapat pelanggan sebanyak itu, saya berhenti dagang pecel,” ucap Hartono.

Faktor lain yang membuat Hartono ‘gantung wajan’ adalah bosan ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP ataupun preman yang membuatnya berpindah-pindah tempat lokasi berjualan.

Warna yang mencolok sebagai ciri khas spanduk ala PKL Lamongan

Pemilihan warna untuk spanduk pecel lele tersebut selalu dibuat dengan warna-warna yang mencolok. Biasanya warna ngejreng yang digunakan tersebut ada seperti warna stabilo mulai dari kuning, oranye hingga hijau. Bukan tanpa alasan, ternyata pemilihan warna tersebut memiliki maksud tersendiri.

“Ya supaya bisa jadi daya tarik pembeli yang lewat apalagi saat malam hari. Kalau kita pakai warna-warna mati nanti gak kelihatan terang pas malam,” ungkapnya.

Untuk membuat sebuah spanduk lukisan warung makan khas Lamongan yang mencolok dan bisa menarik perhatian, Hartono menambahkan kain berwarna hijau “stabilo” di tepian kain putih yang telah dilukis.

Hartono mengaku harga spanduknya mengikuti harga pasar, maksudnya ia tak mau menjual spanduk di bawah ataupun di atas harga pasar. Katanya, “Pengrajin spanduk ini jumlahnya bisa dihitung, enggak ada istilahnya kami bersaing itu enggak ada.”

Biasanya, satu warung memesan spanduk sepanjang 10 meter, yang terdiri dari lima meter untuk bagian depan dan 2,5 meter masing-masing untuk sisi kanan serta kiri warung. Harga paling mahal biasanya ada pada spanduk warung makanan khas Lamongan yang menyajikan beragam masakan laut atau dengan banyak gambar. (@om_mbes)