Regional

Jumat, 28 Mei 2021 - 09:49 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Salah satu tugu silat di Kecamatan Puger yang dirusak oleh perguruan lain. (nusadaily.com/ Sutrisno)

Salah satu tugu silat di Kecamatan Puger yang dirusak oleh perguruan lain. (nusadaily.com/ Sutrisno)

Pemkab Jember Ingin Robohkan Tugu Silat Sembarang Tempat, Polisi Proses Hukum Pesilat Anarkis

BERITALOKA.COM – JEMBER – Tindakan anarkis pengeroyokan maupun perkelahian yang melibatkan antar pendekar silat kerap terjadi di Kabupaten Jember. Salah satu pemicunya adalah rasa gengsi dan atas simbol seperti atribut maupun tugu perguruan silat.

Catatan dari Polres Jember terdapat 10 kasus pengeroyokan antar pesilat dalam kurun waktu lima bulan di tahun 2021. Sebanyak 4 kasus tengah disidang ke pengadilan, sedangkan 6 kasus sisanya masih diproses oleh polisi.

Oleh karenanya, Pemkab Jember berencana menertibkan bangunan tugu silat yang dibangun secara serampangan. Sebab, tugu silat telah banyak tersebar secara liar di berbagai penjuru Jember. Bahkan, menempati ruang-ruang publik.

Wakil Bupati Jember, KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau Gus Firjaun yang mewacanakan hal itu menyusul rentetan peristiwa bentrok atau penganiayaan yang melibatkan antar pendekar silat.

BACA JUGA: Peluang Wisata Hantu di Indonesia, Akankah Banyak Diminati?

“Jadi seluruh identitas dari semua perguruan silat, hanya boleh dipasang di kantor mereka, atau di tempat mereka berlatih, seperti padepokan. Di luar itu, kita akan tertibkan,” tutur Gus Firjaun.

Anarkis Pendekar Silat

Sebelumnya, telah digelar rapat bersama antara Pemkab Jember, kepolisian, dan pengurus organisasi perguruan silat untuk membahas masalah yang tergolong sebagai kasus anarkis para pendekar silat.

Adalah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Jember yang meminta rapat tersebut lantaran maraknya kekerasan yang menimpa pesilat Pagar Nusa, perguruan silat yang ada dibawah naungan NU.

Rapat tersebut juga khusus mengundang perwakilan dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), satu-satunya perguruan silat yang kerap terlibat bentrok fisik dengan Pagar Nusa.

Gus Firjaun mengatakan, berupaya mencegah berulangnya kasus kekerasan yang demikian. Pemkab Jember dalam waktu dekat akan mengadakan forum bersama dengan mengundang sebanyak 33 perguruan silat.

BACA JUGA: Desa Terung Magetan, Mistis dan Wingit

“Pada forum bersama itulah, kita akan sampaikan rencana penertiban ini. Kami harap, ini bisa disepakati oleh semua pihak,” tutur putra mendiang Rais Aam PBNU KH Achmad Shiddiq itu.

Kebijakan penertiban tugu dimaksudkan untuk mewujudkan kebersamaan antar perguruan silat. Alasannya, jika salah satu perguruan dibiarkan mendirikan simbol di sembarang tempat, maka bisa memicu kecemburuan.“Kita tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi,” tegas Firjaun.

Baru-baru ini Polres Jember menciduk 4 orang pesilat dari PSHT karena melakukan perusakan tugu yang menjadi simbol perguruan Ikatan Pencak Silat Putra Indonesia (IKPSI) Kera Sakti di Desa Wonosari, Kecamatan Puger. Sementara, 13 pesilat yang juga turut terlibat melakukan perusakan, masih buron.

Polisi juga sudah memproses penyidikan pada kasus belasan anggota PSHT yang mengeroyok beberapa pesilat Pagar Nusa lantaran memakai kaos perguruannya sedang melintas di jalan raya Kecamatan Bangsalsari.

Selain itu, ada juga kasus penganiayaan di Kecamatan Ambulu. Seorang pemuda asal Lumajang yang memakai masker berlogo perguruan Gasmi dihujani bogem mentah oleh sejumlah orang yang diduga dari unsur pesilat perguruan lain.

Kapolres Jember AKBP Arief Rachman Arifin menegaskan, pihaknya memproses secara hukum terhadap 10 kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang melibatkan pesilat. Dia menolak upaya permintaan agar masalah tersebut diselesaikan lewat jalur kekeluargaan.

“Tidak lagi ruang pada kekeluargaan. Karena menurut saya sudah tidak pantas. Jadi, walaupun melibatkan orang banyak, tetap kami proses,” ucapnya. (sut/kal)

Artikel ini telah dibaca 259 kali

Baca Lainnya