Regional

Selasa, 4 Mei 2021 - 16:49 WIB

2 hari yang lalu

logo

Usai diperiksa penyidik Polsek Bangorejo sebagai tersangka, Wahyu Dhita Putranto sempat berpose mengacungkan jempolnya. (nusadaily.com/ istimewa)

Usai diperiksa penyidik Polsek Bangorejo sebagai tersangka, Wahyu Dhita Putranto sempat berpose mengacungkan jempolnya. (nusadaily.com/ istimewa)

Pejabat Lapas Jember Jadi Tersangka Penipuan Terhadap Anggota DPRD Banyuwangi dari PDIP

BERITALOKA.COM – JEMBER – Sejumlah petugas dari Polsek Bangorejo, Banyuwangi menggelandang Wahyu Dhita Putranto, seorang pejabat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jember yang diduga melakukan penipuan CPNS di Kementerian Humum dan HAM.

Kapolsek Bangorejo AKP Mujiono menjelaskan, kedatangannya ke Jember untuk memanggil paksa Wahyu yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tujuannya agar yang bersangkutan bisa memberikan keterangan ke penyidik.

“Kita naikkan statusnya sebagai tersangka karena sudah cukup memenuhi alat bukti melakukan rangkaian kebohongan. Kami kenakan Pasal 178 juncto Pasal 172 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara,” terangnya, Selasa, 4 Mei 2021.

Baca Juga: Made Swastiko Resmi Dilantik sebagai Anggota DPRD Banyuwangi

Menurut dia, Wahyu mengakui menerima uang sekitar Rp300 juta dari Patemo, anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada tahun 2019 silam.

Uang tersebut dimaksudkan sebagai imbalan atas janji menjadikan anaknya Patemo masuk CPNS. Namun, janji Wahyu tidak kunjung terwujud hingga sekarang.

Baca Juga: Wanita Berprofesi PNS Ini Selingkuh dengan Anggota DPRD, Dua Kali Endehoy

Mujiono bercerita, bahwa Wahyu tidak pernah mengembalikan uang itu kepada Patemo meski kerap kali diminta secara baik-baik.

“Wong korban bilangnya minta uangnya sendiri malah seperti orang ngemis. Karena tidak berhasil dan merasa jengah, sehingga korban melapor,” ujarnya.

Kepala Lapas Kelas II A Jember, Yandi Suyandi mengatakan, aksi aparat kepolisian tersebut merupakan tindakan terukur karena Wahyu yang menjabat KPLP (Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan) dinilai bersikap tidak kooperatif terhadap penyidik.

Baca Juga: Kemenperin Pacu Investasi Sektor Elektronik

“Prosedur hukumnya, tiga kali dipanggil tidak hadir sehingga dijemput paksa terhadap Wahyu. Masalah hukumnya di wilayah Banyuwangi. Kita tunggu kelanjutannya. Prosedurnya memang seperti itu,” tutur Yandi.

Polsek Bangorejo belum melakukan penahanan dengan alasan Wahyu tidak berpotensi melarikan diri karena masih bertugas di Lapas Kelas II A Jember.

Baca Juga: Dua Mantan Pejabat Pemkab Kutai Timur Dieksekusi ke LP Tenggarong

Selain itu, barang bukti berupa uang dianggap tidak membahayakan orang lain seperti halnya senjata tajam. Wahyu juga mendapat jaminan dari pengacaranya.

Kepada polisi, Wahyu meminta waktu sepekan agar dapat menjual asetnya di Jember untuk dipakai mengembalikan uang korban. Hal tersebut juga menjadi pertimbangan polisi dengan maksud meringankan beban korban, sehingga tidak langsung menjebloskan Wahyu ke dalam sel tahanan.

Kendati demikian, Mujiono menegaskan, upaya pengembalian uang korban sama sekali tidak mempengaruhi proses hukum pidana.

“Saya tidak urusi bayar membayar. Proses hukum jalan terus,” tegasnya.

Upaya mengkonfirmasi Wahyu tidak berhasil, oleh sebab nomor selulernya dalam kondisi nonaktif. Demikian halnya dengan Patemo selaku korban juga enggan menerima sambungan telepon, dan juga belum membalas pesan untuk klarifikasi. (sut)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya