Opinion

Selasa, 12 Mei 2020 - 17:00 WIB

12 bulan yang lalu

logo

Didi Kempot.

Didi Kempot.

Obituari Didi Kempot: Buah Konsistensi yang Melintasi Batas Identitas

Oleh: Muhammad Choirul Anwar*

Kematiannya tiba ketika berada di puncak popularitas. Semua itu dicapai berkat konsistensi dan proses panjang yang tidak sekadar mengejar popularitas secara instan. Ya, jika memang ingin cepat terkenal, menulis dan menyanyikan syair-syair berbahasa Jawa adalah pilihan ceroboh, di tengah hegemoni ‘Loe-Gue’.

Namun Didi Kempot konsisten atas pilihannya. Ia mendobrak hegemoni itu dengan terus berkarya. Maka meledaknya penggemar dari generasi milenial juga bukan terjadi dengan tiba-tiba. Golongan kelahiran 90-an ini pada akhirnya tersesuaikan selera musiknya secara alamiah, ketika menyelami ingatan-ingatan dalam hidupnya.

Generasi ini memang mulanya bisa jadi tak sengaja punya keinginan untuk mendengar lagu-lagu Didi. Meski begitu, karya Didi mudah ditemui di mana saja. Dari radio yang diputar bapaknya di masa kecil, dari sebuah perjalanan di dalam bus antarkota antarprovinsi, atau dari pesta-pesta perkawinan.

Maka ia menciptakan pasar tanpa perlu memaksakan diri mengikuti selera pasar, dengan lagu-lagu yang selalu punya daya magis. Karya-karyanya berlirik sederhana, tapi justru itu yang membuatnya dekat dengan tiap orang yang mendengarnya.

Para pendengarnya senantiasa dibuat hanyut oleh keadaan yang terlukis melalui lagu. Termasuk pada lagu yang ditulisnya beberapa saat sebelum meninggal: Tamba Teka Lara Lunga. Syairnya begitu jujur, mencurahkan kerinduan antarmanusia, yang tak bisa berjumpa karena wabah. Pun demikian doa yang terpanjatkan, adalah doa semua orang yang mendengarnya.

Berikut lirik selengkapnya:
Pingin nyawang wes suwe kowe ra bali
(Ingin memandang, telah lama engkau tak kembali)
Sing tak suwun ning paran sing ngati-ati
(Yang kupinta, di rantau berhati-hatilah)

Bisaku mung nyawang
(Aku hanya bisa memandang )
Dimar jagad sing ning mego
(Penerang semesta di atas mega)
Ayang-ayangmu katon ning netro
(Bayanganmu tampak nyata di mata)

Aku lilo yen kowe rung biso bali
(Aku rela jika kamu belum bisa kembali)
Lahir batin aku lilo tak estoni
(Lahir batin aku rela merestui)

Senajan kangen tenan
(Meskipun teramat rindu)
Rasane ati iki
(Rasanya hati ini)
Nganti kapan sirnane pacoban iki
(Sampai kapan sirnanya cobaan ini)

[Reff ]
Tombo teko loro lungo
(Obat datanglah, sakit enyahlah)
Duh Gusti enggal singkirno
(Ya Tuhan segera singkirkanlah)
Leloro sing wonten negari kulo
(Pesakitan yang ada di negeri hamba)

Tombo teko loro lungo
(Obat datanglah, sakit enyahlah)
Duh Gusti enggal welaso
(Ya Tuhan segeralah berbelas kasih)
Paringono welas asih mring kawulo
(Limpahkanlah belas kasih kepada kami)

Sebagaimana lagu lainnya, nada-nada yang tersaji teramat nempel di telinga, sehingga terkadang tak perlu tahu arti liriknya untuk bisa menikmati karyanya. Itulah yang membuat karya Didi Kempot pada akhirnya menembus batas-batas identitas: ia terbebas dari sentimen kesukuan, perbedaan usia, dan bahkan kelas sosial. Lagunya dinikmati oleh presiden sampai tukang becak, laki-perempuan, tua-muda.

Lebih dari itu, tanpa konsistensi yang dilakukan Didi Kempot, bisa jadi tak akan ada nama-nama seperti Via Vallen atau Nella Kharisma yang bangga bernyanyi dengan bahasa Jawa. Berkat inspirasinya pula, menulis lagu berbahasa Jawa tetap jadi tradisi.

Maka penulis dan penyanyi lagu berbahasa Jawa terus menjamur, dari generasi Sodiq Monata sampai era Happy Asmara. Tentu di antara dua generasi itu, ada sederet nama-nama lain yang berkarya dengan beragam modifikasi genre, dan tetap bersyair Jawa.

Ada Eny Sagita ‘Aseloley’ dengan serial Ngamen-nya, sebuah musik dangdut koplo atau yang dikenal juga dengan irama dangdut jaranan. Ada pula NDX aka Familia dan Phendoza dengan selipan rep hip-hop pada lagu-lagu mereka di antaranya Kelingan Mantan, Bojo Galak, Aku Cah Kerjo. Genre pop juga melahirkan nama Denny Caknan yang belakangan meledakkan Kartonyono Medhot Janji.

Diakui atau tidak, mereka semua adalah buah dari konsistensi Didi Kempot. Dengan demikian, sebagai seniman, Didi Kempot sudah merampungkan tugasnya secara paripurna. Karya-karyanya melintasi zaman, meleburkan batas-batas identitas, dan melahirkan generasi-generasi penjaga tradisi.

Didi Kempot

*Penulis lahir di Surabaya, 9 November 1992. Bisa ditemui di akun instagramnya: @m_choirul_

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya