Tunjungan Fashion Week, NU-Muhammadiyah: Fenomena ‘Tulang Lunak’ Resahkan Surabaya

14
Trend Citayam Fashion Week rupanya telah sukses menginspirasi arek-arek Suroboyo melalui Tunjungan Fashion Week. (Zona Surabaya Raya)

BERITALOKA.COM – SURABAYA – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menutup Jalan Tunjungan pada Sabtu untuk kegiatan Tunjungan Fashion Week mendapatkan perhatian dari dua organisasi masyarakat (ormas) Islam besar di Surabaya.

Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memperingatkan Pemkot Surabaya agar bisa mengawasi pagelaran tersebut lantaran muncul pemuda-pemuda yang menggunakan fashion ala wanita dan dikhawatirkan menjadi ajang sosialisasi LGBT.

Baca Juga: Tunjungan Fashion Week Dibubarkan, Satpol PP: Fashion Boleh, Tapi Jangan Ganggu Lalu Lintas

Dilansir dari Beritajatim.com, Ketua GP Anshor Surabaya, M Faridz Afif mengatakan, munculnya fenomena kebanci-bancian atau ‘tulang lunak’ adalah bentuk melawan terhadap norma sosial dan agama. Ia mengimbau agar para pelaku fashion tetap menjaga norma sosial dan hukum agama yang berlaku.

“Seharusnya pelaku fashion tetap memegang teguh norma-norma kehidupan. Etika bermasyarakat yang pantas dan sewajarnya. Pemkot Surabaya harus mengontrol dan mengawasi wanita sewajarnya memakai pakaian wanita, kalau laki-laki berpakaian wanita, itu harus ditindak. Karena itu merusak moral dan merusak anak muda,” ujar pria yang akrab dipanggil Gus Afif tersebut.

Baca Juga: Tunjungan Fashion Week, Pembawa Berkah Bagi Pedagang UMKM

Sementara itu, terkait influencer/selebgram laki-laki yang membuat konten di Jalan Tunjungan dengan menggunakan pakaian perempuan seperti Brojabro, Gus Afif mengatakan harusnya influencer mengimbau agar tidak menggunakan cara yang tidak wajar dalam menarik perhatian.

“Jangan aneh-aneh, normal-normal sajalah. Perempuan pakai baju perempuan, laki-laki pakai baju laki-laki. Jangan menarik perhatian dengan menggunakan cara yang tidak bermoral,” imbuhnya.

Baca Juga: Tunjungan Fashion Week, Pembawa Berkah Bagi Pedagang UMKM