Gawat! Kerusuhan Pecah di Eropa, Warga Protes Lockdown Corona

0
Demo anti-lockdown berakhir rusuh di Belanda (Media TV Rotterdam via AP)

BERITALOKA.COM – EROPA – Lonjakan kasus Covid-19 di Benua Eropa membuat beberapa negara bersikap dengan memberlakukan pembatasan social atau lockdown. Namun warga menentang dengan menggelar demo hingga berujung kerusuhan.

Aksi demonstrasi terjadi di beberapa negara Eropa. Para warga memprotes aturan lockdown yang ditetapkan oleh masing-masing pemerintah.

BACA JUGA : Waduh! Corona di Asia Makin Menggila, Vietnam Lockdown

Tak sedikit aksi yang berujung pada kericuhan yang membuat sejumlah orang diamankan. Beberapa negara Eropa tersebut diantaranya, Belanda, Belgia, Prancis hingga Austria.

Belanda

Protes menentang pembatasan Covid-19 di Belanda diketahui sudah berlangsung selama 3 hari berturut-turut sejak Minggu (21/11). Para demonstran bahkan tak segan memberikan perlawanan kepada petugas.

Para demonstran menyalakan kembang api dan merusak propeti di kota-kota Groningen dan Leeuwarden di utara Belanda, Enschede di timur, dan Tilburg di selatan, pada Minggu malam.

BACA JUGA : Denmark Perpanjang ‘Lockdown’ untuk Perangi Varian Baru Virus Corona

Belanda diketahui memberlakukan penguncian parsial pada 13 November. Selain itu pemerintah setempat juga tengah mempertimbangkan aturan yang lebih ketat untuk warga yang tidak divaksinasi di area publik.

Petugas kepolisian mengatakan sedikitnya 130 orang telah ditangkap sejak protes dimulai.

Sebuah pertandingan sepak bola di Leeuwarden bahkan sempat terganggu setelah para pendukung yang dilarang menonton pertandingan karena pembatasan COVID-19, melemparkan kembang api.

BACA JUGA : Gawat, Banyak Pasien ASN Kab Blitar Positif Corona, Dinkes Di-lockdown

Di Rotterdam, kota terbesar kedua di Belanda, polisi menangkap 26 orang pada Minggu (21/11) setelah para penonton sebuah pertandingan menjadi gaduh. Orang-orang menyerang polisi, melemparkan tempat sampah, dan menyalakan kembang api.

Tetapi protes itu jauh lebih ringan daripada yang meletus di Rotterdam pada Jumat (19/11) malam dan Den Haag pada Sabtu (20/11).

Belgia

Protes juga terjadi di Belgia. Ribuan orang memprotes aturan pembatasan COVID-19 di pusat kota Brussels pada Minggu (21/11).

Mereka terutama berdemonstrasi menentang persyaratan yang dibuat oleh pemerintah. Salah satu persyaratan tersebut yaitu agar masyarakat menunjukkan sertifikat vaksin di tempat umum, seperti restoran.

BACA JUGA : Positif Corona, Aktivis Anti-Lockdown di Amerika Kini Tidak Berani Keluar Rumah

Sekitar 35.000 orang turun ke jalan di Brussels pada Minggu (21/11), kata polisi. Tetapi mayoritas telah bubar sebelum protes berkembang menjadi kekerasan.

Menjelang malam, pengunjuk rasa mulai menghancurkan mobil dan membakar tempat sampah. Polisi akhirnya merespons dengan menggunakan meriam air dan gas air mata untuk meredakan situasi.

Kepala Biro DW Brussels, Alexandra von Nahmen, mengatakan dia bisa mencium bau gas air mata saat dia berjalan ke tempat kerja.

Tiga pejabat polisi dan satu demonstran terluka dalam bentrokan itu, kata seorang juru bicara polisi. Sekitar 42 pengunjuk rasa ditahan, dan dua lainnya ditangkap.

Infeksi COVID-19 meningkat pada kecepatan yang mengkhawatirkan di Belgia dalam beberapa pekan terakhir. Belgia mencatat rata-rata lebih dari 12.000 infeksi baru per hari.

Meskipun 75% dari populasi sudah divaksinasi di seluruh Belgia, situasinya jauh lebih buruk di ibu kota di mana hanya 57% yang sudah divaksinasi penuh, kata kepala biro DW Brussels.

Perdana Menteri (PM) Belgia Alexander de Croo menanggapi dengan berang insiden kekerasan yang mewarnai aksi demo untuk memprotes penerapan langkah-langkah anti-COVID-19 yang lebih ketat. Dia menyebut peristiwa itu “benar-benar tidak dapat diterima”.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (23/11/2021), berbicara kepada wartawan setelah pertemuan dengan PM Prancis Jean Castex, De Croo berterima kasih kepada polisi karena bekerja untuk melindungi ketertiban umum dalam “masa yang sangat, sangat sulit”.

Pekan lalu, pemerintah De Croo mengumumkan penerapan kembali aturan vaksin yang lebih ketat, termasuk wajib bekerja di rumah untuk beberapa orang dan wajib memakai masker.

Beberapa pengunjuk rasa menentang vaksin. Para demonstran lainnya menentang tindakan-tindakan kesehatan wajib yang mereka lihat sebagai pelanggaran kebebasan pribadi.

Austria

Puluhan ribu orang juga melakukan unjuk rasa di ibu kota Austria, Wina.

Unjukrasa ini dilakukan tak lama setelah pemerintah mengumumkan lockdown nasional. Lockdown nasional ini sendiri berlaku mulai Senin (22/11).

Pemerintah Austria mengumumkan aturan itu untuk menahan lonjakan infeksi COVID-19. Pemerintah setempat juga berencana untuk membuat vaksinasi menjadi wajib pada Februari 2022.

Diketahui, Austria adalah negara Eropa pertama yang membuat vaksinasi sebagai persyaratan hukum.

Prancis

Wilayah luar negeri Prancis di Guadeloupe dilanda penjarahan dan kerusuhan pada malam ketiga protes, dengan pengunjuk rasa bersenjata menembaki polisi dan petugas pemadam kebakaran, kata pihak berwenang pada Minggu (21/11).

Polisi menangkap 38 orang saat pengunjuk rasa masuk ke mobil dan membakar kendaraan. Mereka juga menghancurkan apotek, kata Alexandre Rochatte, petugas keamanan Guadeloupe, yang mewakili pemerintah Prancis, dalam sebuah pernyataan.

Wilayah ini telah diguncang oleh protes selama seminggu, dengan orang-orang menuntut diakhirinya mandat pemerintah tentang vaksinasi wajib bagi petugas kesehatan, serta mencari dukungan untuk kenaikan harga bahan bakar.

Juru bicara pemerintah, Gabriel Attal, mengatakan kepada radio Europe 1 bahwa situasi saat ini tidak dapat “diterima atau ditoleransi.”

Prancis mengerahkan pasukan khusus ke kepulauan Karibia, yang tiba pada Minggu (21/11). Perdana Menteri Jean Castex juga dijadwalkan bertemu pada Senin (22/11) di Paris dengan para pejabat Guadeloupe.

Hampir 70% populasi daratan Prancis sudah divaksinasi lengkap, sedangkan di Guadeloupe porsinya kurang dari 50%.(han)

+ posts