Culture

Sabtu, 14 Desember 2019 - 12:39 WIB

8 bulan yang lalu

logo

http://perjalananyangbagus.blogspot.com

http://perjalananyangbagus.blogspot.com

Disinilah Ladang Pembantaian Pasukan Kediri Oleh Ken Arok

NUSADAILY.COMMALANG – Watu Gilang di Dusun Ngabab, Desa Ngabab, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang konon menjadi dalang pembantaian pasukan Kerajaan Kediri oleh pasukan Singosari yang dipimpin Ken Arok. Situs yang berada di kawasan hutan Perhutani di perbatasan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang itu berada di pegunungan yang jalurnya hanya setapak dan menanjak serta berdebu. 

Sementara itu, menurut juru kunci situs Watu Gilang, Cukup Sudarsono, 70, di kompleks itu terdapat sekitar 25 makam dan benteng dari batu setinggi 4 meter dengan panjang sekitar 27 meter. 

Tempat tersebut menurut berbagai informasi pernah menjadi lokasi pertempuran antara Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Kertajaya dan pasukan Kuwu Tumapel yang dipimpin Ken Arok. Pertempuran itu bermula dari pertentangan antara para brahmana dan Raja Kertajaya (Kediri). Hal ini terjadi karena para brahmana menolak menyembah raja yang menganggap dirinya sebagai dewa. 

Para brahmana lalu meminta perlindungan kepada Ken Arok. Saat itu Ken Arok merupakan akuwu dari Tumapel, setelah sebelumnya membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes. Kesempatan ini digunakan Ken Arok untuk membebaskan Tumapel dari kekuasaan Kediri. Pasukan Tumapel menuju Kediri melalui jalur Gunung Dworowati. Akhirnya terjadi pertempuran di Ganter, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Dworowati Pujon. Pada pertempuran itu, pasukan Kediri menghadapi prajurit Tumapel pimpinan Ken Arok yang didukung para brahmana dari Kediri, sedangkan pemimpin dari pasukan Kediri adalah Mahisa Wulungan, saudara dari Raja Kertajaya. Pertempuran dimenangkan oleh pasukan Tumapel. 

Sampai saat ini lokasi tempat terjadinya pertempuran tentara Tumapel melawan Kediri, terdapat banyak peninggalan arkeologis. Salah satunya adalah watu gilang atau sebuah benteng setinggi 4 meter dengan panjang 27 meter yang tersusun sangat rapi. Benteng ini diduga merupakan sarana pertahanan pasukan Kediri untuk menghalau serangan dari pasukan Tumapel yang dipimpin Ken Arok. Di sekitar benteng yang disebut dengan Watu Gilang juga terdapat beberapa makam kuno. Menurut juru kunci watu gilang, makam tersebut merupakan persemayaman terakhir dari prajurit yang gugur saat pertempuran itu. 

Di situs Watu Gilang ini terdapat beberapa tulisan kuno yang terpampang di salah satu batu. Bentuk tulisan di Watu Gilang itu berbeda dengan temuan pada seluruh situs di wilayah Jawa Timur. Adapun makna dari tulisan yang ada di watu gilang, hingga kini belum berhasil diungkap. Selain benteng dan makam kuno, di kompleks situs Watu Gilang dulunya juga terdapat arca berukuran besar. Tak jauh dari komplek pemakaman watu gilang, tepatnya di puncak Gunung Kukusan, terdapat sebuah makam kuno, namun tidak diketahui secara pasti keterkaitan makam ini dengan pertempuran Ganter yang terjadi di Gunung Dworowati. 

Sementara itu ada yang menduga kompleks di Watu Gilang itu dulunya diduga sebagai mandala kadewaguruan, atau pusat pembelajaran agama Hindu. Nah kemudian di masa Islam, lokasi itu juga digunakan semacam pesantren. Lalu, ketika para penyebar Islam itu meninggal, mereka dimakamkan di sana. Sehingga dia menduga makam yang ada sat ini bukan makam prajurit Kediri atau Tumapel di masa Hindu seperti yang banyak dipercaya masyarakat. Tetapi makam Islam yang ditandai dengan batu nisan, yang mana makam itu jauh setelah peristiwa perang Ganter. Sebab, dalam sejarah, tidak pernah ada orang Hindu yang dimakamkan dengan ditandai batu nisan.(aka)

Artikel ini telah dibaca 66 kali

Baca Lainnya