Entertainment

Kamis, 14 November 2019 - 13:32 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Djaduk Ferianto
seniman

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA)
07-02-2015

Djaduk Ferianto seniman Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA) 07-02-2015

Tentang Mas Djaduk

NUSADAILY.COM-YOGYAKARTA – Seniman legendaris tanah air, Gregorius Djaduk Ferianto meninggal dunia Rabu, 13 November 2019, di Yogyakarta.

Beberapa jam sebelum berpulang, Djaduk diketahui sedang mempersiapkan acara Ngayogjazz dan pentas Teater Gandrik.

Adik dari seniman Butet Kertareadjasa ini meninggal di usia ke-55 tahun karena penyakit jantung.

“Kurang lebih jam 02.30 WIB (kemarin), Djaduk mendapatkan serangan jantung,” kata Butet Kartaredjasa kepada Kompas, saat ditemui di rumah duka.

Kepergian Djaduk terbilang mendadak. Di hari-hari terahirnya, Djaduk bahkan masih sibuk latihan untuk persiapan Ngayogjazz yang akan digelar 16 November mendatang.

“Yang pasti di hari-hari terakhir ini Djaduk sangat sibuk untuk latihan musik dan sedang menyiapkan Ngayogjazz yang akan dilaksanakan tanggal 16 November di Godean,” Butet menambahkan.

Djaduk merupakan anak bungsu seniman tari legendaris Indonesia Bagong Kussudiardjo. Djaduk lahir pada 19 Juli 1964 di Yogyakarta. Semasa muda, ia sudah bertekad terjun ke dunia kesenian Indonesia dengan menempuh  pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI).

Terlahir di keluarga seniman, Djaduk tergolong multitalenta. Djaduk dikenal sebagai musisi etnis yang mendirikan beberapa grup musik diantaranya Kua Etnika, Ring of Fire Project, dan Orkes Keroncong Sinten Remen.

Instagram/@djaduk

Ketiga grup musik tersebut memadukan unsur musik tradisional dan modern. Melalui grup musiknya, Djaduk berhasil membawa musik tradisional Indonesia hingga ke Eropa.

Selain bermusik, Djaduk memiliki bakat di dunia penyutradaraan dan akting. Semasa hidupnya ia telah menyutradarai beberapa pertunjukan Teater Gandrik dan terlibat dalam pembuatan film Indonesia. Misalnya Petualangan Sherina (2000), Koper (2006), dan Jagat X Code (2009). Djaduk pun sempat mengerjakan ilustrasi musik untuk sinetron, jingle iklan, dan film.

Kecintaannya pada dunia seni berangkat dari lingkungan masa kecilnya di Tedjakusuman, Yogyakarta. Sejak kecil Djaduk sudah akrab dengan dunia musik, teater, hingga pewayangan. Djaduk juga pernah bercita-cita menjadi dalang, dan bahkan sempat belajar mendalang.

Instagram/@djaduk

Pada tahun 1978, Djaduk pernah menjuarai Musik Humor tingkat Nasional. Sejak saat itu, ia semakin giat mendalami bidang seni musik.

Selang beberapa tahun, pada 1982, Djaduk mendapatkan penghargaan Kreativitas Terbaik dalam kompetisi Akustik se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tahun 1995, Djaduk mendapat Piala Vidia atas prestasinya sebagai Penata Musik Terbaik di Festival Sinetron Indonesia (FSI). Berkat kepiawaiannya tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta menobatkan Djaduk sebagai Pemusik Kreatif 1996.

Kiprahnya di dunia seni dan budaya juga membuatnya memperoleh penghargaan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2000.

Djaduk kemudian menggagas pagelaran musik tahunan di Yogyakarta, Ngayogjazz. Pasca berpulangnya Djaduk, acara Ngayogjazz akan tetap dilaksanakan sesuai jadwal, di Dukuh Kwagon, Desa Sidorejo, Kecamatan Godean, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Almarhum ingin acara ini diteruskan di kemudian hari,” kata Board Creative Ngayogjazz, Aji Wartono, dilansir dari Inews.

Mendiang Djaduk meninggalkan istri, Petra, dan lima orang anak, Rajane Tetabuhan, Presiden Dewa Gana, Ratu Hening, Kandida Rani Nyaribunyi, serta Gusti Arirang yang dikenal sebagai musisi/bassist dari grup band Tashoora. (lna/yos)

Artikel ini telah dibaca 93 kali

Baca Lainnya