News

Senin, 11 November 2019 - 17:07 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Rebutan Lahan Hutan untuk Kebun Sawit, PT SAB Bunuh Dua Warga

NUSADAILY.COM-LABUHANBATU – Rebutan lahan kawasan hutan antara warga dengan perusahaan sawit menjadi pemicu terbunuhnya dua warga Labuhanbatu, Sumatera Utara, 30 Oktober 2019 lalu.

Dua korban adalah Maraden Sianipar (55) dan Martua Siregar (42). Mereka menjadi korban pembunuhan sadis di sebuah kebun kelapa sawit milik PT Sei Alih Berombang (SAB)/Koperasi Serba Usaha (KSU) Amelia.

Setelah melakukan penyelidikan selama lima hari, Selasa, 5 November 2019, polisi berhasil menangkap dua pelaku. Dari sini, diketahui pemilik PT SAB menjadi otak pembunuhan.

Identitas Korban

Maraden diketahui pernah menjadi caleg NasDem pada Pileg 2019 dapil Kabupaten Labuhanbatu. Maraden juga diketahui pernah bekerja sebagai wartawan Pilar Indonesia (Pindo) Merdeka. Sementara Martua adalah seorang penggiat lembaga swadaya masyarakat setempat.

Keduanya dikenal kerap menjembatani kasus sengketa lahan milik warga dan perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2014, keduanya pernah memimpin warga saat unjuk rasa ke kantor Bupati Kabupaten Labuhan Bajo terkait sengketa lahan hutan ini.

Saat terjadinya pembunuhan, jasad kedua korban ditemukan di saluran drainase gudang PT SAB, Dusun VI, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu.

Jasad Maraden ditemukan pada Rabu, 30 Oktober 2019. Sedangkan jenazah Martua pada Kamis, 31 Oktober 2019.

Kronologi Pembunuhan

Kapolsek Panai Hilir AKP Budiarto menuturkan, laporan hilangnya Maraden dan Martua pertama kali didapat dari seorang warga yang juga kerabat korban, bernama Burhan Nasution.

Selasa 29 Oktober 2019 pukul 17.00 WIB, Maraden meminjam motor milik Burhan untuk digunakan menuju kebun kelapa sawit PT. SAB. Maraden mengajak serta Pak Sanjai, atau yang lebih dikenal Martua Siregar. Seharian penuh, keduanya tak kunjung pulang, Burhan pun mulai curiga.

Keesokan harinya, Rabu 30 Oktober 2019, Burhan melapor ke Polsek Panai Hilir. Pihak kepolisian segera melakukan penelusuran ke lokasi perkebunan kelapa sawit yang dituju Maraden dan Martua.

Selang beberapa waktu, jasad Maraden ditemukan di dalam sebuah parit tepat di belakang gudang kebun sawit. Jasad Maraden segera dibawa ke Puskesmas Si Berombang untuk pemeriksaan awal.

Polisi kemudian melakukan olah TKP dan pemeriksaan saksi. Jasad Maraden akhirnya dipindah ke RSUD dr Djasamen Saragih, Kota Pematangsiantar untuk diautopsi.

31 Oktober 2019, Martua, yang sebelumnya pergi bersama Maraden, akhirnya juga ditemukan tak bernyawa. Kurang lebih 200 meter dari tempat Maraden ditemukan.

Saat ditemukannya Martua, polisi belum mengantongi hasil investigasi. Polsek Panai Hilir kemudian melakukan kerja sama dengan Satuan Reskrim Polres Labuhanbatu menguak kasus pembunuhan ini.

Penangkapan Pelaku

Selasa, 5 Nopember 2019, polisi berhasil menangkap dua pelaku dengan inisial VS (49) dan SH (50) warga Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari.

Dari keterangan kedua pelaku, ada empat pelaku lain dalam pembunuhan Maraden dan Martua. Masing-masing berinisial JS, PR, M dan P.

Pencarian tersangka dilanjutkan atas bantuan personel Jatanras Polda Sumatera Utara. Satu orang berhasil ditangkap di Dusun Janji, Desa Sionom Hudom, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbahas, Selasa 5 November 2019 pukul 19.30 WIB.

Tersangka baru ini berinisial DS (30). “Penangkapan tersangka di rumah abangnya, oleh personel Jatanras Polda Sumatera Utara dipimpin Ipda Gunawan Sinurat bersama dengan Kapolsek Parlilitan dan personel Polsek Parlilitan,” jelas Kasubbag Humas Polres Humbahas, Iptu S Purba, Rabu 6 November 2019 .

Para pelaku pembunuhan (Foto: Dedy Hermawan-AFP)

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Utara mengungkap, ada delapan pelaku yang terlibat dalam kasus pembunuhan ini. Lima pelaku telah ditangkap pada hari Jumat, 8 November 2019. Tiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran polisi.

Pelaku yang menjadi dalang pelaku pembunuhan adalah JHK (42) warga Pajak Nagor, Dusun 5, Kecamatan Perdagangan, Kabupaten Simalungun. JHK juga dikenal sebagai Humas Kebun Kelapa Sawit PT Sei Alih Berombang (SAB).

Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya satu unit sepeda motor Honda Revo warna hitam liris biru BK 5158 VAB, satu unit sepeda motor Honda Supra X dengan nomor polisi BK 2220 IO. Lalu ada satu potong kaus dalam berlumuran darah, satu potong kaus warna hitam dan satu ponsel milik tersangka.

Motif Pembunuhan

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto menyebut motif pelaku adalah korban dianggap ikut menggarap lahan milik perkebunan PT Sei Alih Berombang (SAB).

Menantu pemilik perkebunan, HP, meminta agar perkebunan dijaga dari para penggarap. Jika ada penggarap yang melawan akan diusir bahkan dibunuh.

“Setelah para pelaku melakukan pembunuhan, mereka menerima kiriman uang dari Wati selaku bendahara PT Sei Alih Berombang (SAB) sebesar Rp 40 juta. Kemudian uang itu dibagi-bagi dengan pelaku lainnya. JS mendapat Rp 7 juta, DS menerima Rp 17 juta, HS menerima Rp 9 juta dan JHK mendapatkan Rp 7 juta,” ungkap Kapolda Agus.

Hingga kini, polisi masih terus melakukan pencarian sisa pelaku. Para pelaku disebut melanggar Pasal 340 jo Pasal 338 dan atau Pasal 55, 56 KUHP, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup dan atau selama-lamanya 20 tahun.

Mengutip laporan mongabay.co.id, kebun sawit ini PT SAB/KSU Amelia ini ternyata beroperasi di kawasan hutan. Pada 13 November 2018, Dinas Kehutanan Sumut, menyegel lahan dan menebang sawitnya.

Dalam pertemuan Walhi Sumut, Dinas Kehutanan Sumut menyebutkan perusahaan perkebunan sawit ini diduga merambah kawasan hutan untuk dijadikan perkebunan sawit seluas 750 hektar. Dinas Kehutanan Sumut sudah eksekusi kawasan hutan yang dikuasai ilegal perusahaan ini.

Tak hanya beroperasi di kawasan hutan, perusahaan ini juga berkonflik dengan masyarakat. Khairul Buchori, Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, mengatakan konflik terjadi bertahun-tahun sampai pasca eksekusi pemerintah. (lna/yos)

Artikel ini telah dibaca 70 kali

Baca Lainnya