Business Food

Senin, 18 November 2019 - 12:57 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Gudeg, Makanan Warisan Prajurit Mataram Ketika Babat Alas

NUSADAILY-YOGYAKARTA – Makanan gudeg sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Dalam buku berjudul Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya oleh Prof. Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyebutkan gudeg sudah ada sejak masa awal Yogyakarta dibangun. Sekitar abad ke-16.

Dalam buku itu, Murdijati mengisahkan bahwa prajurit Kerajaan Mataram membongkar hutan belantara untuk membangun peradaban. Diperkirakan letaknya sekarang menjadi daerah Kotagede.

Di hutan tersebut, terdapat banyak pohon nangka dan kelapa. Para prajurit itu kemudian berusaha memasak nangka dan santan kelapa.

Salah satu proses memasak gudeg disebut dengan hangudek atau mengaduk. Dari hangudek itulah tercipta makanan khas Yogyakarta yang kemudian disebut gudeg. Dimulai dari penemuan tak sengaja para prajurit Mataram, gudeg kini sudah dikenal masyarakat luas.

Dalam jurnal Gudeg dalam Perspektif Masyarakat Yogyakarta oleh Rizkie Nurindiani, tertuang beberapa fakta tentang gudeg.

Pertama, adanya fakta bahwa gudeg dikenal sebagai makanan khas daerah Yogyakarta. Meski khas, gudeg tidak dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari (dijadikan makanan pokok) yang kemudian dapat mencerminkan kebiasaan makan masyarakat Yogyakarta.
Kedua, gudeg sebagai satu jenis makanan, oleh masyarakat Yogyakarta dibagi lagi menjadi berbagai varian. Perbedaan varian gudeg ini disebabkan cara masak dan resep yang berbeda, tampilan warna, dan juga tekstur dari gudeg itu sendiri.

Hal itu menciptakan selera masyarakat terhadap gudeg tidak selalu sama. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu standar gudeg yang paling asli.

Ketiga, dalam kesehariannya, gudeg menjadi makanan yang fleksibel dalam hal waktu. Artinya, tidak ada waktu khusus untuk mengonsumsi gudeg. Kapan pun masyarakat bisa makan gudeg.

Keempat, sebagai makanan khas, familiaritas gudeg diturunkan dalam keluarga di Yogyakarta dengan cara kerap mengonsumsinya, meski belum dapat dikatakan sebagai rutinitas.

Masyarakat Yogyakarta sendiri justru banyak yang tidak tertarik untuk mempelajarinya. Karena berbagai alasan. Seperti cara memasak yang rumit dan sudah banyak orang yang jual.

Masyarakat yang ingin belajar memasak gudeg hanya dapat mempelajarinya melalui resep-resep yang ada, atau langsung ke penjual gudeg. Hingga saat ini, belum pernah menemui tempat belajar masak formal yang memuat gudeg dalam kurikulumnya.

Kelima, dari fungsinya, gudeg memiliki empat kegunaan utama bagi masyarakat Yogyakarta di kesehariannya. Yaitu sebagai comfort food, klangenan, suguhan, hiburan, dan lauk harian.

Selain itu, di kota Yogyakarta oleh masyarakat, gudeg dianggap sebagai salah satu identitas kota Yogyakarta. (diolah dari kumparan/mel/yos)

Artikel ini telah dibaca 43 kali

Baca Lainnya